Tata SIA Airlines Limited (Vistara) berencana membeli pesawat senilai US$ 8,5 miliar, seiring meningkatnya pertumbuhan kelas menengah di India.

Vistara mengaku sedang menjajaki kemungkinan atas pembelian 50 pesawat berbadan ramping dan 10 pesawat berbadan lebar milik Boeing Co. dan Airbus SE. Pesawat berbadan ramping biasa digunakan dalam rute penerbangan jarak pendek. Diskusi merupakan salah satu cara mengantisipasi lonjakan permintaan, yang dipicu pertumbuhan kelas menengah India. Keputusan mengenai pembelian diprediksi selesai pada akhir Juni 2018.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan jumlah penumpang pesawat di kawasan Asia-Pasifik akan mencapai 3,5 miliar pada 2036. Tiga negara penyumbang utamanya adalah Cina, India dan Indonesia. Dalam prediksi untuk periode yang sama, jumlah penumpang pesawat Cina akan bertambah 921 juta. Penumpang di India bakal menguat 337 juta dan Indonesia bertambah hingga 235 juta.

Baca juga: Airbus-Boeing Nikmati Lonjakan Penumpang Asia-Pasifik

Baik Vistara maupun Airbus belum memberikan keterangan secara resmi. Seorang juru bicara Airbus yang tak ingin disebutkan namanya mengingatkan, diskusi dengan pelanggan bersifat rahasia. Perwakilan Vistara akan memberikan pernyataan resmi mengenai strategi dan ekspansi perusahaan pada waktunya, kata juru bicara itu lagi.

 

60 Armada Airbus-Boeing Diminati Maskapai India

Jika rencana pembelian akhirnya terwujud, Vistara akan mampu memperluas penerbangan hingga ke New York dan London. Bahkan dengan tambahan armada ini, Vistara juga akan mampu bersaing dengan tiga maskapai besar asal Timur Tengah, yaitu Emirates Airlines, Etihad Airways dan Qatar Airways, yang menguasai sekitar 18 persen pasar di India. Saat ini Vistara sedang bersaing ketat dengan Air India.

Vistara merupakan perusahaan patungan antara Singapura Airlines dan Tata Group dengan Tata Group sebagai pemegang saham mayoritas. Vistara didirikan pada tahun 2015.

Sementara itu, Eric Schulz, kepala penjualan Airbus memprediksi daftar pesanan pesawat berbadan ramping akan bertambah melampaui 60 pesawat pada pertengahan 2019. “Pemasok akan berupaya mencari jalan untuk mengatasi kenaikan permintaan,” terangnya seperti dikutip Bloomberg.