Pada kuartal I 2018, okupansi hotel-hotel di Jakarta mencapai 60 persen.

Hariyadi B. Sukamdani, Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan, secara siklus, paruh kedua selalu lebih baik dari paruh pertama. Namun, secara mengejutkan, tahun ini okupansi paruh pertama juga lebih baik.

“Kontribusi terbesar dari acara-acara yang diadakan oleh pemerintah. Ternyata, walaupun pemerintah diminta untuk mengurangi kegiatan di luar kantor, mereka tetap butuh mengadakan acara di hotel,” jelas Hariyadi berapa waktu lalu.

Secara rinci, menurut Hariyadi, kegiatan pemerintah bukan hanya untuk sosialiasi. Namun juga untuk pelatihan (workshop). Bahkan saat ini, meski working space menjamur, kegiatan di hotel tidak tetap berkurang. Lebih jauh, menurut Hariyadi, working space yang menjamur adalah tren dan belum akan menjadi pesaing hotel untuk kegiatan-kegiatan MICE.

“Bisnis hotel juga sama dengan bisnis lainnya, perlu ada tren, entah itu makanan, atau untuk foto-foto Instagram. Tapi kami juga berusaha mengakomodasi hal tersebut. Makanya hotel-hotel sekarang mulai menyediakan lokasi-lokasi bagus untuk berfoto,” jelasnya.

Sementara itu, menurut lembaga riset properti Colliers,  bisnis hotel memang lebih sibuk, terutama di Jakarta. Kesibukan bertambah pada Januari dan Februari 2018 dibanding periode kuartal sebelumnya.

“Tahun ini dan tahun depan, okupansi hotel-hotel akan lebih stabil. Sedangkan pada 2020, pasokan kamar hotel akan menyentuh level tertinggi,” ungkap Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International.

Permintaan ruang rapat banyak didominasi pembahasan Asian Games dan pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF). Yang juga tidak bisa ketinggalan adalah rapat-rapat yang berkaitan dengan pemilihan umum (Pemilu) 2019.

Pada tahun ini, setidaknya akan ada 2.488 unit kamar baru, yang terbagi menjadi 836 kamar bintang tiga, 815 bintang empat, dan 837 bintang lima. Bintang empat masih mendominasi dengan porsi sebesar 39,1 persen.

“Hingga akhir tahun kami prediksi [okupansi hotel] bisa mencapai 62 persen,” jelas Ferry.

Sedangkan secara harga, room rate hotel-hotel di Indonesia akan stabil meski persaingan ketat.