Beberapa hari lalu para praktisi saham mulai bertanya-tanya: akankah penghentian sementara operasional kantor layanan publik atau shutdown Amerika Serikat (AS) menginterupsi pasar?

Pertanyaan ini sebetulnya bukanlah yang pertama terdengar.

Pada 1976, Presiden AS saat itu Gerald Rudolph Ford Jr. memveto rancangan anggaran Departemen Tenaga Kerja, Kesehatan, Pendidikan serta Kesejahteraan Rakyat yang senilai US$56 miliar. “Penolakan saya terhadap rancangan anggaran undang-undang ini semata-mata berlandaskan alasan integritas fiskal,” papar Ford seperti tertulis pada halaman surat kabar The New York Times, 30 September 1976.

Veto sang presiden menyebabkan shutdown selama 10 hari. Data LPL Financial Research (LPL Research) mencatat, indeks saham S&P 500 turun 3,4% hingga hari berakhirnya shutdown pertama di AS itu.

Enam tahun kemudian di bawah kepemimpinan Presiden Ronald Reagan, AS kembali menghadapi shutdown. Bedanya dengan era Ford, indeks saham S&P 500 sepanjang tiga hari shutdown pada September-Oktober 1982 mencatatkan kenaikan 1,3%. Kenaikan yang sama terjadi selama shutdown pada era Presiden George Herbert Walter Bush (1990), Bill Clinton (1995) dan Barack Obama (2013).

Sejumlah investor saham menilai masa kepresidenan Clinton dan Obama sebagai yang tersukses sepanjang masa, atau, paling tidak, hingga era baru Trump. Diukur dari indeks saham S&P 500 selama kepemimpinan keduanya, Obama hanya kalah tipis dari Clinton, demikian laporan Financial Times pada awal tahun silam.

Keduanya juga memimpin masa kenaikan nilai tukar dolar AS, yang sempat jatuh di bawah kepresidenan George W. Bush. Di lain sisi, nilai tukar dolar AS melesat dalam fase cepat semasa pemerintahan Reagan. Kenaikan memicu intervensi negara-negara lain melalui Perjanjian Plaza.

Dua kali shutdown pada masa kepemimpinan Clinton tak secara spontan memengaruhi Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia saat itu tetap bergerak positif. Begitu pula shutdown era Obama, yang ditanggapi bursa saham Indonesia dengan ringan.

“Volatilitas berpeluang menguat selama shutdown. Namun, jika ditilik dari sejarahnya, shutdown AS berdampak cukup kecil terhadap pasar,” papar Craig Holke, analis strategi investasi Wells Fargo Investment Institute seperti disitir dari MarketWatch, media analisis pasar yang berinduk Dow Jones & Company, Inc.

Saham Dow Jones Industrial Average, S&P 500 serta Nasdaq Composite Index diperdagangkan pada level mencapai rekor pada penutupan Jumat waktu setempat. Kenaikan turut ditopang penguatan data ekonomi, pertumbuhan laba korporasi, serta pelolosan rancangan undang-undang perpajakan yang akan memangkas tingkat pajak perusahaan.

Dampak shutdown—dalam skala kecil maupun besar—memang tak terhindarkan. Namun, jika memeriksa kembali data LPL Research, indeks saham S&P 500 justru menguat dalam tiga kali shutdown sebelum era Presiden Donald Trump. Kenaikan ini “mengisyaratkan pasar telah belajar dari percekcokan lampau di Washington, tak peduli berapa lama waktunya,” kata Ryan Detrick, analis senior pasar di LPL Research.

Secara historis, shutdown tak secara krusial menggoyang pasar saham.