Para pelaku pasar memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) masih akan mendorong kenaikan suku bunga acuan. Sementara, Presiden AS Donald Trump masih akan terus menyerukan ancaman tarif.

Dengan kondisi tersebut, penurunan nilai aset di pasar negara berkembang (emerging market) belum mencapai titik terendahnya. Hasil survei Bloomberg terhadap 20 investor, trader, dan ahli strategi dari lembaga investasi ternama memperlihatkan, sebagian besar responden berpendapat aksi jual mata uang, obligasi, dan saham di negara berkembang masih akan berlanjut pada paruh kedua 2018.

Sebagian di antaranya menilai kurva penurunan kinerja kelompok aset emerging market masih belum mencapai titik terendahnya. Jajak pendapat yang dilakukan pada 26 Juni hingga 4 Juli lalu, masih memperlihatkan kinerja imbal hasil obligasi masih memiliki potensi lebih baik dari segi keamanan. Sementara, beberapa saham tertentu mulai memperlihatkan perbaikan kinerja.

Daya tarik aset berisiko mulai memudar akibat meningkatnya gesekan perdagangan AS-Cina serta langkah The Fed yang masih terus melanjutkan program pengetatan kuatitatif. Indeks Bloomberg Barclays untuk utang dalam mata uang lokal emerging market, membukukan penurunan tiga bulan pertama sejak 2016.

Hal tersebut menyebabkan investor menjadi lebih selektif. Kondisi sedikit membaik ketika memasuki bulan Juli.

CTA Banner

“Investor tidak mengkhawatirkan prospek emerging market, karena kami mengekspektasikan penguatan dolar akan berlanjut,” kata Kepala Manajer Investasi Sumitomo Mitsui Trust Asset Management Co, Tokyo, Hideaki Kuriki.

Menurutnya, basis perekonomian AS relatif kuat. Dolar AS (US$) dan imbal hasil obligasi negara itu juga tinggi. “Itulah sebabnya mengapa emerging market masih harus berjuang,” jelas Kuriki, seperti dikutip Bloomberg.

Prospek Bunga Acuan The Fed

Berdasarkan survei, sebagian besar responden menempatkan prospek suku bunga The Fed sebagai penggerak utama harga aset di emerging market. Hal tersebut diikuti konflik perdagangan, prospek kebijakan bank sentral emerging market, proyeksi ekonomi Cina, dan harga komoditas termasuk minyak.

Dari segi aset, para investor menempatkan Rubel Rusia, obligasi Korea Selatan, dan saham India, sebagai aset emerging market yang paling disukai. Di posisi kedua adalah mata uang, obligasi, dan saham Polandia.

Sedangkan Indonesia menempati urutan keenam untuk obligasi, ketujuh untuk mata uang, dan kesembilan untuk saham. Argentina yang telah menaikkan suku bunga acuannya hingga 40 persen, menempati posisi terbawah untuk semua kelompok aset.

Survei juga menanyakan penilaian responden tentang prospek laju inflasi, pertumbuhan ekonomi dan kebijakan bank sentral. Laju inflasi diperkirakan akan melaju cepat di Rusia, Afrika Selatan, dan India.

Indonesia, Polandia, Meksiko, dan Korea Selatan cenderung netral. Sedangkan negara yang diprediksi melambat adalah Turki, Cina, dan Argentina.

Akselerasi pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berlangsung di Brazil, Afrika Selatan, Indonesia, India, dan Turki. Sementara, pertumbuhan yang cenderung stabil di Polandia, Korea Selatan, Rusia, dan Cina.

Untuk kebijakan bank sentral diperkirakan akan cenderung hawkish atau tajam di Indonesia, Argentina, Turki, dan India. Cenderung netral di Polandia, Afrika Selatan, dan Meksiko, serta dovish atau lemah di Rusia dan Cina.