Indonesia dinilai sudah melalui masa paling sulit setelah menjadi pusat aksi jual aset termasuk surat utang (obligasi) di pasar negara berkembang (emerging market) pada tahun ini. Selama lima bulan berturut-turut, imbal hasil (yield) obligasi meningkat dan nilai tukar rupiah merosot lebih dari 6 persen. Sejumlah lembaga pengelola dana asing menyatakan, inilah saatnya kembali ke Indonesia.

Loomis Sayles & Co., kembali berburu peluang untuk meningkatkan kepemilikan obligasi Indonesia, dengan alasan fundamental ekonomi domestik yang sehat dan inflasi yang mendekati target. Western Asset Management Co., mengatakan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang proaktif serta kenaikan hasil investasi belakangan ini menciptakan peluang beli surat utang negara berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau US$.

“Indonesia merespons gejolak pasar negara berkembang yang lebih luas dengan melangkah mendahului kurva,” kata Kepala Manajemen Investasi Asia di luar Jepang di Western Asset, Singapura, Desmond Soon. “Kami harus membeli daripada menjual, karena imbal hasil obligasi dolar Indonesia meningkat ketika tidak ada peningkatan risiko default (gagal bayar) yang material,” imbuhnya seperti dikutip Bloomberg.

Sentimen bullish (tren kenaikan) terhadap obligasi Indonesia itu mencerminkan persepsi kebangkitan Indonesia dari tekanan penurunan harga aset negara berkembang sejak Januari lalu. Investor memusatkan perhatiannya pada negara-negara yang tidak terlalu terpengaruh oleh ketegangan perdagangan AS-Cina dan negara-negara di mana pembuat kebijakan terbukti mahir dalam mengelola dampak yang muncul.

Indonesia dinilai relatif rentan terhadap aksi jual di emerging market, mengingat lebih dari sepertiga obligasi pemerintah dimiliki oleh investor asing. Pada saat sama, Indonesia memiliki defisit neraca transaksi berjalan yang melebar dan terpapar risiko perubahan harga komoditas.

Imbal hasil obligasi Indonesia tenor 10 tahun selama lima bulan berturut-turut hingga Juni lalu naik, mencapai level tertinggi di 7,9 persen dari 6,32 persen pada akhir tahun 2017. Surat utang yang berdenominasi dolar juga sudah naik 81 basis poin tahun ini menjadi 4,34 persen. Nilai tukar rupiah terhadap US$ merosot ke Rp 14.565 per US$ bulan lalu, sedikit menguat dari level terendah 17 tahun pada 2015 lalu.

Prospek Domestik Positif

Beberapa hal positif kini mulai muncul. Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berakselerasi menjadi 5,2 persen tahun ini dari 5,1 persen pada 2017. Sementara itu, inflasi melambat menjadi 3,18 persen pada Juli dari 4,37 persen tahun lalu.

Minggu Ini Sembilan Obligasi Korporasi Tercatat di BEI

Loomis Sayles & Co., yang mengaku mengoleksi obligasi Indonesia dalam mata uang lokal dan US$, berpendapat bahwa prospek domestik yang positif akan mendukung permintaan terhadap aset Indonesia begitu sentimen risiko meningkat. Selama proyeksi pertumbuhan global tidak terpengaruh oleh ketidakpastian akibat retorika proteksionisme perdagangan dalam beberapa bulan terakhir, mereka menilai inilah level yang lebih baik untuk membeli risiko Indonesia.

“Untuk saat ini, dengan sentimen pasar yang lebih lemah terhadap risiko, menunjukkan bahwa kesabaran adalah strategi yang tepat,” kata Manajer Portofolio Obligasi Global Loomis Sayles, Boston, Lynda Schweitzer.

Respons Indonesia terhadap aksi jual dinilai telah memberi investor suatu bentuk kenyamanan dan membantu meningkatkan daya tarik obligasi. Bank sentral telah mengumumkan tahapan langkah-langkah yang akan dan telah dilakukan, termasuk menetapkan acauan baru suku bunga acuan overnight untuk perbankan dan tiga kali menaikkan suku bunga acuan sejak Mei lalu untuk memperkuat rupiah.

Pasokan obligasi pemerintah yang lebih sedikit dinilai ikut memberi dukungan kepada pasar surat utang rupiah. Pejabat Kementerian Keuangan, Loto Srinaita Ginting, menjelaskan pemerintah berencana untuk menurunkan penerbitan bersih sebesar 6 persen menjadi sekitar Rp 384 triliun (US$ 26,6 miliar) pada tahun ini.

CTA Banner

Schroder Investment Management Ltd., juga berada dalam kelompok pemburu obligasi Indonesia dengan persepsi positif jangka menengah terhadap obligasi berdenominasi US$. Schroder mengungkapkan pihaknya mengantisipasi bahwa pada akhirnya kekuatan US$ secara luas kemungkinan akan stabil kembali dalam beberapa pekan atau bulan mendatang.

Hal tersebut dinilai dapat mememberikan sentimen yang membaik terhadap obligasi US$ Indonesia. “Pertumbuhan AS berada pada siklus akhir dan fakta adanya defisit kembar pada neraca transaksi berjalan dan fiskal, cenderung akan membebani pergerakan US$,” papar Direktur Fixed Income Schroder Investment, Singapura, Manu George.