Nama dan tanda tangannya kini terimbuhkan pada lembaran uang dolar Amerika Serikat. Tetap saja, cap itu tak menjamin dirinya selalu aman saat berbicara tentang dolar AS.

Menteri Keuangan (Menkeu) AS Steven Mnuchin pekan ini mendapat suatu pengingat keras. Pengingat itu meretas sesudah ia memberi komentar tentang pelemahan dolar. Penurunan nilai tukar mata uang AS, katanya waktu itu, nantinya menguntungkan perdagangan Negeri Paman Sam. Pelemahan juga dinila bakal memicu revisi atas sejumlah kebijakan Presiden AS Donald Trump.

Tak lama berselang, pasar pun mulai bergerak. Harga-harga terombak.

Jika Trump betul-betul membalikkan kebijakan yang sudah lama berlaku di AS, seperti isyarat dalam kalimat Mnuchin, barangkali akan terjadi perang mata uang secara besar-besaran; sesuatu yang dulu pernah mengguncang dunia.

Menyadari kegelisahan para pelaku pasar perdagangan, Mnuchin segera angkat bicara. Ia seperti hendak menegaskan, “Maksud saya bukan seperti itu.”

Menurut Mnuchin, komentarnya terucap berdasarkan fakta, bukan sesuatu yang mewakili Washington maupun senjata perang Trump melawan apa yang kerap didengungkan sebaga “praktik tak adil oleh rekanan AS.” Mnuchin, mantan eksekutif Goldman Sachs, menganggap penurunan nilai tukar dolar AS sebagai sebab-akibat atas reaksi berlebihan para pemain saham sedunia.

“Saya pikir pernyataan saya atas dolar AS sudah cukup jelas,” paparnya seperti disitir dari The New York Times. “Saya rasa komentar saya seimbang dan konsisten dengan pernyataan saya sebelumnya.”

Sebelum Kamis (25/1), Mnuchin mengingatkan kemungkinan-kemungkinan yang berpotensi terjadi jika dunia tak memperhitungkan nilai tukar dolar AS dalam jangka pendek. “Dunia memiliki pasar yang sangat, sangat likuid. Pada saat yang sama, kita meyakini perdagangan bebas mata uang. Pemikiran ini menguntungkan dan sekaligus tak menguntungkan bagi dolar AS.” Ia merasa pernyataan itu “sudah sangat gamblang.”

Barangkali memang sudah gamblang. Barangkali.

Yang jelas, para Menkeu AS sebelum Mnuchin telah mempelajari betapa kata-kata dapat disalahartikan. “Lumrahnya, Menkeu AS sangat disiplin saat mengomentari dolar AS,” papar mantan penasihat ekonomi pemerintahan Barack Obama dan Bill Clinton, Gene Sperling seperti dikutip dari The New York Times. Kedisiplinan diperlukan agar pemain saham dunia betul-betul mencermati setiap kata yang diucapkan sang menteri, yang nantinya berdampak pada perdagangan sedunia.

Tony Fratto, petinggi Departemen Keuangan AS di bawah kepemimpinan George W. Bush mengungkap kebalikannya. Menurut Fratto, nyaris setiap Menkeu AS pernah melakukan kekeliruan yang serupa dengan Mnuchin. Baginya, kekeliruan adalah bagian dari proses pembelajaran dalam pekerjaan para menteri.

“Saya tak terkejut mengetahui Mnuchin akhirnya mengalami juga momen seperti ini. Hampir semua Menkeu, pernah,” paparnya. Fratto mengingatkan, bahasa pasar tak bisa disamakan dengan bahasa retorika. Ia pernah bekerja untuk tiga Menkeu AS. “Nyaris setiap Menkeu yang saya kenal diharuskan untuk memahami bahasa pekerjaan ini.”