Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) hingga 100 basis poin (bps) dalam dua bulan terakhir, tidak ada alasan bagi perbankan nasional untuk menaikkan bunga kredit maupun deposito.

“Ini sudah kami sampaikan terus-menerus saat menentukan kebijakan suku bunga, itu selalu akan kita lihat seluruh indikator. Jadi BI naik 50 bps, tidak ada alasan bank menaikan bunga kredit atau deposito,” ujar Perry.

Perry mengatakan, ada kebijakan bank sentral yang membuat perbankan tidak perlu menaikkan bunga bank. Antara lain, adalah relaksasi aturan pembelian property, yakni pelonggaran kebijakan uang muka (Loan To Value/LTV) yang berlaku 1 Agustus 2018 mendatang.

“Selain itu jumlah likuiditas yang dilonggarkan meskipun terjadi pengetatan kebijakan moneter melalui kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) Averaging yang naik dari 1,5 persen menjadi 2 persen,” tuturnya.

Kebijakan selanjutnya, kata Perry, yakni perhitungan pembiayaan bank yang kini melibatkan pembelian obligasi korporasi sebagai kredit. Dengan begitu, bank memiliki alternatif untuk menyalurkan pembiayaan dengan membeli obligasi korporasi, selain kredit jika risiko kredit masih membebani.

“Ini akan mendorong kegiatan ekonomi dari pembiayaan dari kredit perbankan dan dari pasar modal,” pungkasnya.

BI juga memprediksi inflasi di Juli 2018 akan lebih rendah, yakni 0,23 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 3,14 persen secara tahunan (year on year/yoy). Hal ini berdasarkan berbagai survei terhadap pemantauan harga sampai pekan kedua Juli 2018.

“Ini menunjukkan bahwa harga terkendali dan koordinasi yang erat antara BI dengan pemerintah pusat dan daerah berjalan,” papar Perry.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Juni 2018 sebesar 0,59 persen. Inflasi ini lebih rendah dibandingkan Lebaran tahun 2017 yang mencapai 0,69 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, inflasi tahun kalender (Januari-Juni) 2018 sebesar 1,9 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2017 terhadap Juni 2018) sebesar 3,12 persen. Dari 82 kota yang dipantau BPS, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan, Kalimantan Utara sebesar 2,71 persen dan terendah terjadi di Medan, Sumatra Utara dan Pekanbaru, Riau masing-masing sebesar 0,01 persen.

Stabilitas Rupiah

Perry juga menegaskan BI senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Serangkaian langkah kebijakan ditempuh BI, termasuk koordinasi erat dengan pemerintah.

Kebijakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen yang diputuskan BI pada 28-29 Juni 2018, mendapat persepsi positif investor dan mendorong arus masuk modal asing ke Indonesia. Langkah ini juga disambut baik pelaku pasar sehingga turut mendorong terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah.

Koordinasi BI dengan pemerintah dan otoritas terkait akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta memperkuat implementasi reformasi struktural. “Koordinasi yang erat diharapkan dapat mendorong ekspor, mengurangi impor, mendorong pariwisata dan arus masuk modal asing,” ujarnya.

CTA Banner

Perry juga menyatakan bahwa BI akan terus berada di pasar untuk melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya, dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar. Kebijakan tersebut ditopang oleh pelaksanaan operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar valas maupun pasar uang.

Di samping itu, relaksasi kebijakan LTV yang mendapat sambutan positif dari dunia usaha dan perbankan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan di sektor property. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara umum.