Hari yang telah lama ditakutkan para makelar obat akhirnya tiba.

Selasa terakhir pada akhir Januari, tiga gergasi Amerika Serikat (AS) bersepakat: “Mari membangun suatu bisnis perawatan kesehatan di negeri ini.”

Ketiga titan itu bersalaman, mengikat angan akan penyediaan akses sederhana lagi terjangkau guna memperbaiki kesehatan masyarakat AS. Nama mereka adalah Amazon.com Inc., Berkshire Hathaway Inc. serta JPMorgan Chase & Co.

Bisnis Kesehatan di Tangan Tiga Gergasi AS

Aliansi ketiganya merupakan cerminan atas kerut-merut perawatan kesehatan AS. Terlebih sekarang, saat beberapa pebisnis kesehatan mulai frustasi lantaran pelbagai cara tak kunjung berbuah manis.

Dua tahun silam terbentuk Aliansi Transformasi Kesehatan–kelompok 46 pengusaha besar–di Negeri Paman Sam. Pembentukan diharapkan dapat memperbaiki sistem kesehatan AS. Salah satu caranya melalui kontrak penjualan obat yang lebih baik dengan CVS Health Corp. serta Optum kepunyaan UnitedHealth Group Inc, perusahaan pengelola manfaat farmasi atau pharmacy-benefit manager (PBM) terbesar di sana.

Perusahaan yang termasuk dalam daftar PBM merupakan makelar dalam sistem farmasi AS. Merekalah yang maju bernegosiasi agar para karyawan dapat memperoleh obat dengan harga lebih murah. Pada saat yang sama, biaya kesehatan dari tahun ke tahun terus membengkak.

Dari sisi konsumen, tingkat belanja pribadi dan rumah tangga semakin meningkat. Biaya perawatan dan harga obat yang mahal menyebabkan sejumlah di antaranya beralih ke pengobatan berbasis holistik. Di AS, keterjangkauan biaya perawatan kesehatan nyaris dapat disebut “suatu kelangkaan.”

Baca juga: Penurunan Saham Kesehatan Melemahkan Wall Street

Anggota PBM kini hanya memiliki sedikit cara untuk bertahan. Salah satunya melalui diversifikasi bisnis. Mereka berharap penelitian serta sistem kontrol harga obat yang ditawarkan dapat memangkas biaya perusahaan.

Ketika masih bergelut dengan beragam persoalan yang agaknya belum mau tuntas, ketiga titan tiba-tiba muncul, ibarat ledakan kembang api penyambut Tahun Baru. Tak hanya itu, ketiganya menawarkan kesempatan yang lebih drastis ketimbang PBM.

Misalnya tawar-menawar secara langsung dengan produsen obat terlarang, atau membentuk sistem penawaran berbasis daring, sehingga dapat secara transparan menegosiasikan harga obat. Bagi PBM, upaya-upaya semacam ini dapat mengikis sumber keuntungan yang krusial untuk perusahaan.

Bisnis Kesehatan di Tangan Tiga Gergasi AS

Musim Dingin yang Muram

Hari itu entah apa. Yang jelas, daun-daun mengemas tengah menyelimuti ruas-ruas jalan di pelbagai negara bagian AS. Pada musim gugur 2017 itu, pelaku industri perawatan kesehatan mulai mendengar kemungkinan Amazon menyisip dalam lingkaran mereka.

Sejumlah laporan di AS lalu meretas; menyibak data tentang suatu pengecer berbasis internet yang merangkul pemegang lisensi farmasi di beberapa negara bagian. Upaya Amazon–perusahaan pengecer yang disebut-sebut dalam laporan itu—diprediksi akan menguat.

Begitu prediksi menguar, spekulasi kian kencang berembus di AS. Termasuk kemungkinan Jeff Bezos, Chief Executive Officer (CEO) Amazon, menggandeng pengusaha lain. Spekulasi itu menemukan jawabannya sendiri pada awal Januari. Bezos merangkul dua teman baiknya, Warren Buffett (CEO Berkshire) dan Jamie Dimon (CEO JPMorgan Chase).

Amazon adalah jawaban, dan teknologi menjadi kuncinya. Ketiga mitra itu mengaku akan memfokuskan awal bisnis baru mereka pada teknologi yang “sederhana sekaligus berkualitas bagus dan memiliki keterbukaan data perawatan kesehatan,” bagi lebih dari 500.000 karyawan mereka yang berkewarganegaraan AS. Strateginya belum tersingkap. Yang pasti, mereka tengah mencari-cari seorang CEO yang tepat.

Dalam segala ketidakpastian, PBM mesti bersiap-siap, kini.