Bitcoin dan Fenomena Tulip Berabad-abad Lalu

“Terdapat kemungkinan kalau bitcoin bisa benar-benar runtuh,” ungkap ekonom pemenang Nobel Ekonomi, Robert Shiller seperti dikutip dari CNBC. Kemungkinan akan runtuhnya nilai bitcoin mengingatkannya pada masa fanatik tulip pada berabad-abad lalu di Belanda.

Fanatisme masyarakat Belanda terhadap bunga tulip pada abad ke-17 menjadikan harga bunga cantik tersebut langsung meroket tajam. Kenaikan mengakibatkan jatuhnya pasar tulip pada tahun 1637.

Shiller, seorang profesor dari Universitas Yale, mengungkapkan, akan ada “gelembung” di mana-mana. Bahkan, nantinya akan sampai pada tahap orang-orang tak lagi tahu harus melakukan apa terhadap mata uang virtual ini.

“Tak ada nilai sama sekali, terkecuali ada konsensus kalau bitcoin memiliki nilai. Misalnya emas yang setidaknya disepakati memiliki nilai, jika orang tidak melihat emas sebagai investasi,” ujar Shiller dalam wawancaranya di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Menurutnya, demam bitcoin mengingatkannya pada mania Tulip di Belanda pada tahun 1640-an. Beberapa orang masih mau membayar tulip dengan harga yang terkadang masih sangat mahal. Maka timbul pertanyaan: akankah bitcoin nantinya betul-betul runtuh?

“(Bitcoin) mungkin benar-benar runtuh dan dilupakan. Saya pikir itu bagus. Namun, tetap ada kemungkinan bisa bertahan hingga 100 tahun,” katanya.

Ekonom lain, seperti Paul Donovan dari Divisi Pengelolaan Kekayaan UBS juga menyamakan tren perkembangan bitcoin dengan fenomena gelembung tulip.

Bitcoin dan Fenomena Tulip Berabad-abad Lalu

 

Ekonom tersebut mungkin bukan yang pertama yang berkomentar soal bitcoin karena melihat kenaikan harga di atas 1.000 persen dalam 12 bulan terakhir dari pertukaran kriptografi termasuk Bitstamp, Coinbase, itBit dan Bitfinex, menurut data CoinDesk.

CEO J.P. Morgan, Jamie Dimon bahkan menyebut bitcoin sebagai “kecurangan.” Sementara kepada CNBC, CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett menyebut cryptocurrency akan sampai pada akhir yang buruk.

Sebelumnya, harga bitcoin diprediksi bisa menembus US$ 100.000 pada 2018. Pada Desember 2016 di depan wartawan CNBC, Kay Van-Petersen, analis dari Saxo Bank menyatakan harga bitcoin diramal bisa mencapai US$ 2.000 pada 2017.

Pada saat itu, bitcoin masih diperdagangkan pada level US$ 900. Beberapa bulan kemudian, harga bitcoin mulai meloncat dari level US$ 2.000. Van-Petersen mengatakan, kenaikan harga bitcoin antara lain terdorong serapan yang lebih besar dari investor institusional dan kontrak berjangka (futures).

Untuk mencapai level US$ 100.000, bitcoin perlu mencapai angka pertumbuhan 635% dari level harga tertinggi pada Selasa (16/1) lalu waktu setempat sebesar US$ 13.601,43. Sebelumnya, Van-Petersen mengungkapkan butuh waktu 10 tahun agar bitcoin bisa mencapai level US$ 100.000.

Meski demikian, Van-Petersen juga melihat kemungkinan jenis koin lainnya, seperti ethereum, bakal mengungguli bitcoin tahun ini. “Karena jenis koin ini memiliki kepemimpinan yang lebih terpadu dibanding bitcoin,” katanya.

Ethereum, tidak seperti bitcoin, memiliki kelompok inti pengembang yang mengendalikan perkembangan teknologi. Beberapa ahli mengatakan bahwa koin ini akan berumur lebih panjang dan memiliki kepastian dalam hal pertumbuhan.