Bitcoin Jatuh Ke Level Terendah Sejak November

Pada perdagangan Kamis, bitcoin, mata uang virtual terbesar sedunia, jatuh hingga sebesar 11 persen. Pelemahan merupakan yang terendah sejak November. Jatuhnya bitcoin turut dipicu sentimen negatif larangan iklan di Facebook Inc. serta aturan baru yang akan dikembangkan banyak negara.

Pada bursa Bitstamp di Luxemburg, bitcoin diperdagangkan pada level US$ 9.022, lebih dari setengah harga puncak pada Desember lalu. Kinerja bulanan sepanjang Januari turun hingga 26 persen, yang terburuk sejak Januari 2015.

Berdasarkan Coinmarketcap.com yang melacak pergerakan mata uang virtual, diketahui penurunan juga terjadi pada mata uang virtual lainnya, yaitu ripple. Penurunan tercatat sebesar dua digit dalam waktu 24 jam.

Peningkatan nilai koin digital dan investor ritel baru dalam pasar ini membuat regulator global terkejut dan khawatir digunakan untuk spekulasi. Selain itu beberapa berita negatif terjadi, seperti pencurian US$ 500 juta dari pertukaran mata uang virtual Jepang.

Arun Jaitley, Menteri Keuangan India, pada Kamis mengatakan  akan mengambil semua tindakan untuk menghapus aset mata uang virtual dalam pembiayaan kegiatan yang tidak sah, atau sebagian dari pembayaran sementara itu untuk mengeksplorasi penggunaan teknologi blockchain.

Bitcoin Jatuh Ke Level Terendah Sejak November

Di sisi lain, Facebook pada situsnya mengaku mulai melarang semua iklan yang “mempromosikan produk dan layanan keuangan yang sering dikaitkan dengan praktik promosi yang menyesatkan atau menipu, seperti opsi biner, penawaran koin awal dan kriptokokus”. Namun belum diketahui secara pasti apakah larangan Facebook memengaruhi iklan di media sosial lainnya.

Fawad Razaqzada, seorang analis di FOREX.com mengatakan kekhawatiran atas larangan tersebut. Ia menilai larangan iklan dan pertukaran mata uang virtual utama membuat investor berpikir ulang menempatkan uang mereka.

“Sentimen terhadap mata uang virtual berubah menjadi asam dengan headlines negatif mengalir keluar dari kiri, kanan dan tengah,” kata Fawad Razaqzada, analis di FOREX.com, seperti dikutip dari Reuters.

Pasar semakin cemas menyusul peretasan dari pertukaran mata uang virtual Jepang, coincheck, sebesar US$ 530 juta pada akhir pekan lalu. Surat  perintah pengadilan telah dikirimkan Amerika Serikat ke dua pemain  terbesar dunia, Bitfinex dan Tether.

Di sisi lain, angin segar datang dari Korea Selatan yang tidak berencana melarang pembelian dan penjualan mata uang virtual, sesuai janjinya.