Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina akan berdampak buruk pada sektor penerbangan negara Paman Sam. Padahal, selama ini persaingan antara pabrikan pesawat AS, Boeing dan Airbus milik Perancis selalu terjaga dalam keadaan seimbang.

Sayangnya, dengan gaung perang dagang yang juga belum berhenti, Boeing sangat mungkin kehilangan Cina sebagai pasar utamanya. Pasalnya Presiden Cina, Xi Jinping tengah  terdesak untuk bisa segera membalas rencana tarif impor yang dikenakan AS senilai US$ 50 miliar dari ribuan barang yang dijual negaranya ke sana.

Selama ini masyarakat bertanya-tanya tentang kebijakan apa yang akan diambil Xi Jinping, hingga akhirnya Perdana Menteri Perancis, Edouard Philippe berkunjung ke Beijing. Pada pertemuan tersebut, Perancis menjajaki kesepakatan dengan maskapai penerbangan Cina atas pemesanan 180 pesawat Airbus A320.

Kerja sama ini bernilai US$ 18 miliar, dan akan sangat efektif membuat AS terpukul. Pasar Asia kemungkinan akan menguntungkan pabrikan Airbus untuk melayani lebih banyak pesanan di masa depan. Jin Wei, Peneliti Penerbangan di Pusat Pengembangan Industri Informasi Cina, mengatakan potensi tersebut tentu saja dengan memanfaatkan situasi ekonomi politik yang tengah memanas antara AS dan Cina.

“Pemesanan dalam jumlah besar ke Airbus akan menjadi peringatan bagi AS bahwa Cina memiliki alternatif dan tidak takut bentrok dengan perdagangan AS,” kata Jin Wei.

Strategi semacam itu juga dapat membantu Cina mendorong perpecahan yang lebih dalam dengan tujuh negara di Eropa. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Jerman pekan lalu menyerukan negara-negara Eropa untuk bersatu dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh AS dari beberapa perjanjian perdagangan global.

Guillaume Faury, Kepala Divisi Pesawat Komersial Airbus, akan bergabung dengan delegasi bisnis yang dibawa Philippe ke Cina selama empat hari. Puncaknya akan terjadi saat para pejabat Perancis bertemu dengan Xi Jinping di Beijing pada Senin mendatang dengan agenda penandatanganan kerja sama pemesanan pesawat tersebut.

Perwakilan untuk Airbus mengatakan perusahaan yang bermarkas di Toulouse selalu berbicara dengan pelanggan tentang persyaratan armada mereka dan tidak berkomentar tentang masalah diplomatik. Boeing menolak berkomentar dan melibatkan Cina. Yang pasti, Cina tidak mungkin membuang Boeing sama sekali untuk Airbus.