Para menteri Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) berkumpul di Wina, Austria untuk membahas rencana pelonggaran produksi minyak global.

Para analis memprediksi bakal meretas keputusan penting tentang produksi di tengah-tengah ketegangan politik antarnegara anggota OPEC.

Arab Saudi, salah satu negara anggota, dan non-anggota Rusia, mendesak OPEC meningkatkan kuota produksi (output) setelah 18 bulan pengetatan.

Akan tetapi, Iran dan beberapa negara anggota lainnya telah menentang dan mengancam untuk memveto proposal Arab Saudi.

Pertemuan tingkat menteri hari ini diperkirakan akan menjadi salah satu yang paling sulit.

Inti dari perselisihan ini adalah bersaing dalam kepentingan ekonomi dan politik di antara 14 anggota OPEC.

Geopolitik membayangi pertemuan para menteri Arab Saudi dan Iran, saingan regional utama Timur Tengah.

Para negara berpengaruh kuat dari eksternal OPEC juga kuat. AS telah melobi kepemimpinan Arab Saudi selama berbulan-bulan, mendesak pemangkasan produksi minyak OPEC.

Presiden AS Donald Trump beberapa kali mencuit lewat akun Twitter-nya. Ia mengaku percaya OPEC secara artifisial menjaga harga tetap tinggi.

Rusia, sebagai produsen minyak terbesar dunia yang diikuti oleh Arab Saudi, juga melobi untuk secara bertahap mengakhiri pembatasan produksi saat ini.

 

Keputusan Pasti Berdampak terhadap Pasar

Selagi bersiap untuk menerima dampak sanksi baru AS terkait penolakan Trump terhadap kesepakatan nuklir, Teheran berharap harga minyak akan tetap.

Pada malam sebelum pertemuan OPEC, harga minyak turun dengan harapan keputusan akhirnya adalah meningkatkan produksi.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan pekan lalu tentang kesenjangan pasokan, dengan potensi sebanyak 1,5 juta barel per hari (bph) hilang dari pemasok Venezuela dan Iran pada akhir 2019.

Memastikan pasokan yang stabil bisa menjadi alasan bagi OPEC untuk memutuskan pada hari Jumat untuk membuka keran produksi.

“Akan ada kekurangan pada akhir tahun sekitar 1,6 juta hingga 1,8 juta barel per hari. Ini akan membutuhkan waktu. Jadi apa pun yang dilakukan para menteri OPEC dalam beberapa hari mendatang, itu tidak akan instan, tetapi akan berdampak pada pasar,” kata ketua Alfa Energy Group, John Hall.

“Apa yang juga ingin mereka yakinkan adalah stok yang melimpah, yang telah kami lihat dalam beberapa tahun terakhir, tidak pernah terjadi,” tambahnya.

 

Disiplin Mengatisipasi Bahaya Bisa Saja Hilang

Kelebihan pasokan telah berkontribusi terhadap penurunan harga minyak sejak 2014.

Setelah diperdagangkan di atas US$ 100 per barel, minyak merosot ke US$ 25 per barel dalam waktu 18 bulan pada Januari 2016.

Pembatasan produksi, yang OPEC putuskan pada Januari 2017, telah menurunkan kelebihan stok dan membantu harga minyak pulih ke sekitar US$ 70 per barel.

Iran, yang sebelumnya diperkirakan menentang peningkatan produksi, sejak itu mengisyaratkan akan mendukung kenaikan.

Kegagalan untuk mencapai keputusan bulat akan menandakan kembalinya ke lanskap energi yang lebih kacau.

Sementara para menteri OPEC memperkirakan akan mendukung keputusan untuk menaikkan produksi pada hari ini, pertanyaan yang mereka hadapi berikutnya adalah kapan dan bagaimana cara menarik pembatasan produksi sehingga tercapa kesepakatan?

“Jika pada Jumat tercapai kesepakatan tanpa adanya kenaikan produksi, maka ada bahaya yang melekat bahwa disiplin itu mungkin hilang, bahwa Arab Saudi mungkin akan melakukannya sendiri bahkan untuk 250.000 barel,” kata analis pasar minyak, Gaurav Sharma.

“Itu akan memberi dalih kepada orang-orang Rusia dan 10 anggota non-OPEC yang telah memegang kuat disiplin mereka,” tambahnya.

Sementara itu, data teknis OPEC menunjukkan permintaan minyak yang kuat hingga 2019 di tengah prediksi permintaan global akan segera mencapai 100 juta bph.