PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan masih memiliki pipeline (konsep penjualan) rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dari 20 perusahaan. Sementara itu, selama Januari – 9 Juli 2018, terdapat 26 perusahaan yang listing dengan total perolehan dana Rp 10,3 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD Nyoman Yetna Setia mengatakan, tahun ini, pihaknya masih menargetkan penambahan emiten baru minimal sebanyak 35 perusahaan. Namun, pihaknya tidak memasang target maksimal IPO saham tahun ini.

“Kalau ditanya target maksimalnya, jelas kami ingin sebanyak- banyaknya. Namun, dengan kondisi pasar sekarang, sejumlah korporasi mungkin memiliki pandangan tertentu, tapi BEI masih mengantungi pipeline IPO dari 20 perusahaan,”  tegas Nyoman.

Meski belum dapat menginformasikan identitas perusahaan yang ada dalam pipeline, dia menegaskan bahwa tidak ada anak usaha badan usaha milik negara (BUMN). “Sejauh ini, anak usaha BUMN belum ada lagi di-pipeline yang dipegang BEI. Cuma saya sempat mendengar, ada anak usaha perusahaan pelat merah di bidang rumah sakit yang menjajaki rencana IPO,” ungkapnya.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan, sejauh ini, terdapat anak usaha BUMN yang berencana melangsungkan IPO saham. “Kami ingin yang IPO saham itu memiliki ukuran yang kurang lebih di atas US$ 100 juta. Meski demikian, saat ini, anak usaha BUMN yang berniat IPO masih melakukan valuasi,” jelasnya.

CTA Banner

Aloysius mengakui, mayoritas perusahaan tersebut ingin meraih tambahan dana untuk dapat mengembangkan usaha. “Kebanyakan itu tujuannya untuk pengembangan usaha,” tukasnya.

Sementara itu, sejak Januari – 9 Juli 2018, terdapat tiga anak usaha BUMN yang menjadi emiten baru di BEI. Perusahaan itu adalah PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), PT BRI Syariah Tbk (BRIS), dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC).

Anak Usaha BUMN Berencana IPO

Selain itu, beberapa anak usaha BUMN yang sempat direncanakan IPO oleh induk usahanya, antara lain PT Wijaya Karya Realty (Wika Realty), PT Krakatau Bandar Samudra (KBS), PT PP Urban, dan PT PP Energi.

Sebelumnya, Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya juga mengakui, pihaknya berniat mendorong PT Pelabuhan Tanjung Priok untuk IPO saham pada 2018. Dia menambahkan, khusus proyek yang akan dikembangkan lebih lanjut antara lain Meisterstadt tahap II, Pollux Technopolis tahap II, dan Gangnam District tahap IIK.

“Selain itu, kami sebetulnya akan menggarap proyek properti segmen menengah di Jakarta Utara. Namun untuk detailnya akan kami sampaikan nanti,” tuturnya.

Pollux Properti Indonesia baru-baru ini menggelar IPO saham dengan melepas sekitar 1,24 miliar unit saham, ekuivalen 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Melalui aksi korporasi itu, perseroan meraup dana segar Rp 767,41 miliar.

Direktur Independen Pollux Proper ti Indonesia Maikel Tanuwidjaja mengungkapkan, Pollux Properti merupakan emiten ke-27 yang melantai di BEI tahun ini, sehingga total perusahaan tercatat di bursa saham domestik kini berjumlah 591 perusahaan. Perolehan dana dan porsi saham Pollux yang dilepas ke publik sesuai rencana perseroan saat melakukan pertemuan uji tuntas (due diligence meeting).

“Kami akan menggunakan sekitar 99 persen dana hasil IPO untuk mengembangkan usaha, sisanya untuk modal kerja. Penggunaan dana hasil IPO tentunya akan mendukung pertumbuhan bisnis perseroan,” ungkapnya.