Berdasarkan perdagangan Rabu waktu setempat, greenback tertekan hingga level terendah dalam tiga tahun terakhir terhadap euro. Pelemahan didorong data manufatur di seluruh wilayah, sehingga sinyal kenaikan harga secara perlahan sesuai dengan permintaan dan kenaikan upah. Penguatan euro sudah terjadi sejak Selasa, saat penerbitan rilis indeks kepercayaan zona euro. Dalam laporan tersebut, kepercayaan konsumen mencapai level tertinggi dalam 17 tahun terakhir yaitu 1,3.

Selain dengan euro, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan terhadap dolar Australia, yen dan poundsterling. Nilai tukar dolar Australia menguat 0,31% pada penutupan kemarin. Yen mengalami penguatan hingga level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Yen pada perdagangan Rabu ditutup menguat pada level 109.85. Penguatan dipicu kekhawatiran pasar terhadap jenis perdagangan, yang akan disampaikan oleh presiden AS Donald Trump di Davos.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchi menilai pelemahan dolar sebagai keuntungan bagi perdagangan riil AS. Pelamahan dolar AS  akan meningkatkan daya saing produk.

Di sisi lain, banyak pengamat yang menilai terjadi anomali pasar. Pasalnya, perbaikan data AS seperti kenaikan inflasi tidak direspons penguatan dollar terhadap mata uang lain.

“Ini menunjukkan pasar tidak memikirkan kembali tingkat Federal Federal Funds meskipun ada inflasi. Sementara tanda-tanda inflasi dianggap sebagai pengubah permainan Bank Sentral Eropa,” kata Kit Juckes, pakar strategi Societe Generale SA, seperti dikutip dari Bloomberg pada Rabu (24/1).

 

Mark McCormick dari Toronto-Dominion Bank menjelaskan hal yang tak jauh berbeda. Menurutnya dengan beberapa indikator seperti biaya pinjaman riil untuk lima tahun berada pada level tertinggi sejak dua tahun, data ekonomi AS yang menguat, kebijakan stimulus pajak yang mendorong daya beli seharusnya direspons secara positif oleh pasar.

Nilai tukar dolar AS terus melemah terhadap mata uang mitranya pasca pelantikan Trump. “Pada akhirnya inflasi tidak banyak berpengaruh bagi dolar karena harganya bergantung pada arah kebijakan Federal Reserve. Beda dengan euro yang mendekati ekspektasi inflasi merupakan pertanda bahwa pasar merespons normalisasi kebijakan akhirnya,” terangnya.

Namun di sisi lain, Dia menilai pasar mata uang mulai berspekulasi dengan  pertanyaan besar apakah The Fed saat ini akan merespon arah inflasi. “Apakah akan ada preferensi untuk menghasilkan inflasi namun tidak mengencangkan secara agresif, yang menyebabkan tingkat suku bunga riil yang lebih rendah,? tambahnya.

Institute of International Finance (IIF) menganggap nilai tukar dolar AS terlalu tinggi (over valued). Berdasaran laporan yang dikutip dari situs resmi perusahaan, nilai tukar dolar diprediksi terlalu tinggi sekitar 10%. Sementara defisit neraca berjalan mencapai 2,1% dari Produk Domestik Bruto.

IIF memperkirakan neraca saat ini lebih buruk daripada sebelumnya karena tidak mencerminkan fakta bahwa sebagian besar perdagangan AS terkait dengan pasar di Asia, dengan defisit tercatat sebagai yang terbesar. Rekening giro utama mencerminkan banyak pemain yang berbeda termasuk momentum perputaran barang di AS dan luar negeri selain efek fluktuasi nilai tukar.

Kepala Ekonomi IIF Robin Brooks mengatakan nilai tukar dolar tahun lalu turun hampir 10% dan merupakan kinerja terburuk sejak 2003, saat melemah hanya 3% dari tahun sebelumnya yang sebesar 4%. Menurut Brooks, dolar AS saat inibelum dalam posisi terendah. Nilai tukarnya masih berpeluang terkoreksi.