Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengkaji pelonggaran aturan transaksi margin (short selling). Hasil kajian diharapkan dapat mendorong transaksi dan likuiditas di pasar modal Indonesia.

“Kami memang akan mengkaji pelonggaran aturan transaksi short selling dan mengaktifkan transaksi ini. Tapi, untuk itu butuh proses,” ujar Direktur Utama BEI, Inarno Djayadi.

Short selling sendiri adalah transaksi penjualan saham, di mana saham dimaksud tidak dimiliki oleh penjual pada saat transaksi dilaksanakan. Dalam transaksi ini, investor atau trader meminjam dana (on margin) untuk menjual saham yang belum dimiliki dengan harga lebih tinggi dengan harapan harga saham dimaksud akan turun.

Nah pada saat turun itulah kemudian mereka membeli saham dimakdus. Dari transaksi ini nantinya terdapat selisih keuntungan bagi pelaku pasar setelah mereka melunasi pinjaman ke perusahaan sekuritas.

Biasanya strategi ini dipakai oleh ‘kaum bearish’, atau investor atau trader yang mengambil untung saat pasar turun. Aksi short selling akan menjadi ‘senjata makan tuan’ jika ternyata saham yang ditransaksikan menguat, sebab uang yang harus dikembalikan menjadi lebih besar.

Bahkan, terkadang transaksi short selling yang gagal bisa menimbulkan gagal serah. Sebab jika sudah jatuh tanggal penyelesaian (settlement), maka investor yang melakukan short selling harus menyerahkan sahamnya ke pembeli.

Rencana BEI mengaktifkan transaksi short selling, jelas Inarno untuk meningkatkan likuiditas transaksi saham. Penerapan mekanisme transaksi ini juga akan lebih ditujukan kepada investor ritel daripada investor institusi, sehingga jumlah transaksi di pasar menjadi lebih banyak.

Investor ritel sebagai target utama pelonggaran transaksi short selling, menurut Inarno juga bertujuan agar investor ritel memiliki ketahanan atau resiliensi dan bursa domestik menjadi lebih kuat. “Cara mendorong transaksi ritel adalah dengan mendorong short selling dan mengaktifkan Pembiayaan Efek Indonesia untuk mendukung transaksi itu,” ungkap dia.

Pelonggaran transaksi short selling juga dimaksudkan agar investor ritel yang memiliki dana terbatas bisa juga melakukannya. Meski berdasarkan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tidak semua investor bisa melakukan short selling.

Investor harus menempatkan modal minimal Rp 200 juta sebagai jaminan. Selain itu transaksi short selling hanya bisa dilakukan di perusahaan sekuritas atau anggota bursa yang tercatat di OJK.

 

Penuhi Kebutuhan

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, mengatakan short selling menjadi salah satu langkah BEI untuk menyediakan layanan dan produk yang memenuhi kebutuhan pasar. Apalagi short selling sudah ada ketentuannya, tinggal bagaimana dimanfaatkan sesuai dengan koridor peraturan.

“Kalau ada kemudahan yang kita tawarkan kita akan berikan. Kami akan mencari ruang bagi penyempurnaan peraturan short selling,” ujar Hasan.

CTA Banner

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan memastikan aktifnya layanan atau fasilitas pinjam-meminjam saham (securities lending and borrowing). Layanan itu saat ini difasilitasi oleh PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI).

Layanan securities lending and borrowing menjadi prasyarat aktivitas short selling yang sesuai dengan aturan. Pasalnya, antar Anggota Bursa (AB) harus terlebih dahulu memiliki perjanjian pinjam-meminjam efek, sehingga perlu adanya ketersediaan infastruktur yang teratur dan wajar untuk aktivitas short selling.

“Nanti akan dilihat bagaimana ketersediaan supply yang selama ini masih terbatas. Karena kalau tidak ada bisa berpotensi gagal saat penyerahan atau tiba-tiba saat ingin melakukan peminjaman ketersediaan supply barangnya masih terbatas,” papar Hasan.

Dia menambahkan, persyaratan untuk bisa melakukan short selling antara lain investor harus mengindikasikan transaksi secara spesifik saat memasukkan order. Sebelumnya, perusahaan efek yang menjadi perantara transaksi juga harus sudah memiliki kerja sama dengan KPEI untuk pinjam meminjam efek.

“Mereka juga harus bisa memilih nasabah yang berhak dan layak untuk bisa melakukan transaksi tersebut,” terangnya.

Hasan menampik anggapan bahwa tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjadi akibat maraknya transaksi short selling. Menurutnya, saat pasar bergejolak, biasanya banyak yang melakukan short selling, jadi bukan short selling yang memengaruhi pasar hingga anjlok.

“Jadi hal itu lazim terjadi, tetapi diharapkan tidak memicu pelemahan yang lebih dalam,” jelas Hasan.