Dunia Menanti Regulasi Mata Uang Virtual

Lonjakan yang signifikan dalam perdagangan mata uang virtual, seperti bitcoin, membuat banyak orang khawatir akan terjadi gelembung (bubble). Gelembung-gelembung itu salah satunya mengudara di pasar Korea Selatan, yang semakin kemari malah seolah-olah menjadi suatu obsesi.

Pada tahun lalu, mata uang virtual seperti bitcoin mampu mengumpulkan nilai signifikan, naik 2.000 persen dalam satu tahun hingga berada pada level US$ 19.000. Namun, tiba-tiba, mata uang ini dalam waktu kurang dari sebulan anjlok hingga di bawah US$ 7000 turun lebih dari 50 persen dari posisi puncaknya pada awal Januari. Penurunan yang signifikan ini terjadi kala peretas asal Jepang mencuri dana hingga US$ 530 juta.

Bitcoin diluncurkan pada 2008 oleh Satoshi Nakamoto sebagai alat transaksi di antara partisipan tanpa perantara. Awal keluarnya mata uang virtual membuat kekhawatiran banyak pihak. Kecemasan tertepis sejak awal 2017, saat bitcoin terus mengalami peningkatan signifikan yaitu naik 2.000 persen dalam satu tahun hingga berada di level US$ 19.000.

Banyak penguna mata uang virtual menilai naik-turunnya mata uang virtual sebagai hal yang wajar, seperti boom internet pada tahun 1990-an. Apalagi pasar mata uang virtual baru berkembang dan belum ada sebelumnya. Tantangan masa depannya masih beragam.

“Pergerakan [mata uang virtual] mendorong kita menjadi gesit dan terus memandang ke depan,” terang Jay Clayton, ketua Komisi Sekuritas dan Bursa.

Dunia Menanti Regulasi Mata Uang Virtual

Di lain sisi, belum ada kejelasan aturan mata uang virtual, sehingga pengawasan masih sangat lemah. Pelonggaran kebijakan menimbulkan kejahatan sektor keuangan, selain peretasan tentunya. Baru-baru ini, banyak yang memanipulasi harga token digital yang dikenal dengan istilah skema “pompa dan buang.” Padahal, dalam pasar saham, skema itu turut dilarang.

Hal lain, mata uang virtual tidak melalui perbankan atau lembaga keuangan yang terikat hukum sehingga tidak ada peraturan yang mampu menjerat kecurangan.

Baca juga: Gelembung Bitcoin Mirip Fenomena Tulip Berabad-abad Silam

Mata uang virtual juga bisa menimbulkan kejahatan pencucian uang di suatu negara, ketika pasar uang bergerak bebas tanpa pengawasan. “Ini adalah badai yang sempurna untuk jenis aktivitas pencucian uang yang kita lihat, dan tidak jelas bagi saya mengenai sistem penghapusannya. Peraturan yang ideal dan bijaksana, bisa membantu. Tapi kita mungkin juga perlu koreksi besar untuk benar-benar membersihkan semuanya,” kata Fred Wilson, seorang rekanan di perusahaan modal ventura Union Square Venture. Perusahaannya merupakan salah satu pendukung awal penggunaan bitcoin di Silicon Valley.

Meski belum ada aturan jelas, beberapa regulator lokal melarang perdagangan ini karena lonjakan nilai yang tidak masuk akal. Misalnya saja regulator sekuritas di Texas dan North Carolina mengeluarkan perintah menghentikan transaksi di bitconnet dan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi menutup My Big Coin, yang telah mengumpulkan dana US$ 6 juta.

Dari sisi swasta juga mulai bergerak, karena kekhawatiran terhadap pergerakan mata uang virtual ini. Facebook melarang iklan untuk mata uang virtual. JPMorgan Chase, Bank of America dan Citigroup melarang pembelian mata uang virtual dengan kartu kredit keluaran mereka.