Dunia Merespons Stimulus Berlebih AS

Kita sedang menyaksikan repetisi aset. Pengulangan itu tecermin dari ekspektasi kenaikan inflasi dalam suatu negara, yang mendapat dorongan berlebihan dari stimulus fiskal dan moneter.

Michael Ivanovitch, seorang analis independen yang berfokus pada perekonomian dunia, geopolitik and strategi investasi menuturkan, kenaikan upah bukanlah hal baru di Amerika Serikat (AS), negara yang disebutkan dalam paragraf pembuka tulisan ini. Namun, kenaikan gaji tahunan sebesar 2,9 persen per bulan yang mampu menenggelamkan pasar merupakan hal yang baru. Kenaikan upah dan gaji 2,8 persen per tahun pada kuartal IV/2017 menandai pertumbuhan tahunan yang stabil sebesar 2,6 menjadi 2,8 persen.

Pola upah ini terkadang membuat orang-orang berpikir: Upah tidak menyebabkan inflasi. Penyebabnya adalah beban tenaga kerja. Jika kenaikan upah secara substansial diimbangi peningkatan produktivitas tenaga kerja, maka biaya per unit atau kuotanya akan tetap stabil.

Sebaliknya, jika pertumbuhan produktivitas turun dan biaya produksi meningkat, pebisnis akan cenderung menaikkan harga jual produk untuk melindungi keuntungan dan imbal hasil investasi. Lonjakan harga tersebut akan bertahan dalam kondisi ekonomi yang berkembang, dan akan memicu kenaikan inflasi. “Kenaikan upah buruh pasti akan menyusul kemudian. Menggiring ekonomi menuju perlambatan pertumbuhan, resesi atau situasi buruk yang berkepanjangan,” ujar Ivanovicth dalam sebuah kolom yang ditulis untuk CNBC.

Dunia Merespons Stimulus AS

Presiden AS Donald Trump mengatakan penurunan pasar aset adalah “kesalahan besar” karena “kita memiliki begitu banyak berita bagus tentang ekonomi!”

Batas fisik pertumbuhan ekonomi Amerika saat ini diperkirakan bekisar 1,5 sampai 1,7 persen. Batas tersebut ditentukan oleh kualitas modal manusia dan modal fisik.

Singkatnya, pada awal tahun ini, tekanan kapasitas yang terus meningkat dalam ekonomi bertumbuh di atas potensi pertumbuhan non inflasi dan terus meningkatkan kompensasi tenaga kerja.

Itu menakutkan pasar. Mereka sekarang melihat ekonomi yang terdorong jauh di atas batas fisik untuk pertumbuhan yang melesat cepat–dikenakan stimulus fiskal yang besar–serta pemotongan pajak ditambah meningkatnya belanja publik.

Berita “bagus” yang Trump bicarakan adalah ekonomi yang tengah “batuk” seiring kedalaman tekanan akibat peningkatan permintaan dalam negeri serta defisit perdagangan yang tinggi hingga mencapai rekor.

Pada akhirnya, keragu-raguan bank sentral yang panjang sekarang pada akhirnya mampu membuka jalan terjadinya percepatan pembatasan kebijakan untuk “menormalkan” pendirian kredit dan menyeimbangkan kebijakan.

Sementara itu, suku bunga dana federal tetap stabil di level 1,41 persen (jauh di bawah target 1,50 persen) sejak pertengahan Desember, sementara, selama periode tersebut, imbal hasil pada catatan Treasury acuan 10 tahun naik 39 basis poin, menyelesaikan sesi perdagangan Jumat lalu di 2,85 persen.