Semasa duduk di bangku sekolah dasar kelas 5 berat badan Edsa mencapai 98 kilogram. Berat badannya yang berlebihan ini membuatnya jadi sasaran empuk bullying dan pukul teman-temannya di sekolah. Kini, Edsa bertransformasi dan kembali ‘pede’ usai membuang berat badannya hingga 53 kg.

Edsa-Tampil-Pede-Usai-Kikis-53-Kg

 

Menjadi objek ejekan hingga perlakuan fisik kasar oleh teman-temannya di sekolah merupakan santapannya sehari-hari. Tentu saja dia minder. Rasa percaya dirinya menurun drastis.  Lingkungan sekolah tidak memberinya rasa nyaman. “Ih…, si wantonio (berat satu ton) lewat,”  itu adalah celaan edekan dari teman-temanya ini selalu terdengar setiap hari.

Rasa trauma terhadap sekolah dan teman-temannya pun mulai menebal. Hingga pada akhirnya gadis kelahiran Jakarta, 3 Mei 2000, ini memutuskan untuk jarang masuk sekolah. Dalam setahun, jika diakumulatif, ia tidak masuk sekolah hingga 3 bulan. Tidak hanya trauma, berat badannya yang berlebih membuat gadis periang ini seringkali terkena serangan asma dan sesak nafas.

Apalagi kalau sudah mendapat cemoohan dari teman-temannya asmanya bisa kambuh. “Aku selalu buat alasan untuk tidak masuk sekolah. Mulai dari sakit dan lainnya. Kalau diakumulasi dalam setahun, aku bolos bisa 3 bulan. Mulai dari kelas 1 SD dan tiap naik kelas berat badanku bertambah 10 kilogram,” jelasnya saat ditemui Wormtraders di Soho Mal, Jakarta Barat, Kamis (28/6).

Orangtuanya yang sudah berulang kali menghadap ke sekolah untuk menemui kepala sekolah dan guru-guru. Dengan harapa agar teman-teman Edsa tidak kembali melakukan bullying. Namun, tidak membuahkan hasil. Teman-temanya di sekolah seolah tidak mengindahkan teguran dari guru.

Edsa-Tampil-Pede-Usai-Kikis-53-Kg

Memutuskan Pindah Sekolah

Hingga suatu ketika ia memutuskan untuk  pindah sekolah karena sudah merasa tidak tahan dengan perlakuan teman-temannya. “Akhirnya pindah sekolah karena nggak tahan tiap hari diejek terus. Di sekolah yang baru masih ada sih yang ngeledek, tapi nggak sebanyak di sekolah yang lama,” jelasnya.

Pada saat kelas 2 SMP berat badannya mencapai 107 kg. Rasa percaya dirinya makin hilang dan bullying juga masih tetap terjadi. Gadis yang hobi berorganisasi ini divonis dokter lemah jantung, fatty liver (pembengkakan hati yang disebabkan oleh adanya penimbunan lemak yang berlebihan di dalam sel-sel hati), dan obesitas. “Pokoknya olahraga sedikit langsung pusing dan mau pingsan,” ujar peraih penghargaan sebagai  Best Director di HighScope Film Festival (Hiffest) 2014 dengan judul I Wanna Be 2 ini.

Melihat kondisi fisiknya yang sudah tidak lagi ideal untuk anak seusianya, pemilik nama lengkap Edsa Estella Amrikasari Putri ini mulai berpikir untuk melakukan diet. Awalnya, ibunya membujuk untuk mencoba diet vegetarian dengan  mengonsumsi sayuran setiap hari.

Pemenang film pendek dalam ajang Global Mandiri Film Festival (Gloriff) 2013 berjudul I Wanna Be ini  juga menolak tawaran  ibunya untuk menurunkan berat badan dengan cara injeksi atau dengan mengonsumsi obat tertentu. Dalam benaknya saat itu adalah melakukan diet secara alami jauh lebih baik dan tanpa efek samping di kemudian hari.

Dari internet ia mulai belajar cara berolahraga, semisal 45 menit home workout untuk membakar lemak dan membentuk tubuh.  Di samping itu, gadis yang fasih berbahasa Inggris ini juga mulai mendatangi tempat kebugaran.

“Aku mulai program diet secara otodidak dari Youtube dan internet. Datang ke gym dan ikut kelas seperti body combat dan angkat beban. Aku mulai mengurangi porsi makan. Misalnya, kalau makan di warung Padang abis 11 piring, mulai dikurangi jadi 5 piring,” ungkapnya sambil tertawa.

Edsa-Tampil-Pede-Usai-Kikis-53-Kg

Edsa juga mulai rutin mengonsumsi makanan berserat, seperti buah dan sayuran. Program olahraga dan diet dengan mengonsumsi banyak serat mulai dilakukannya sejak kelas 2 SMP. Hasilnya, dalam waktu dua tahun berat badannya yang tadinya 107 kg menjadi 54 kg. Saat ini, Edsa baru saja lulus SMA. Berat badannya masih tetap stabil di angka 54 kilogram.

Diet Harian ala Edsa

Edsa sudah rutin melakukan program diet hingga saat ini. Untuk sarapan pagi dirinya mengonsumsi susu low  fat, roti gandum, dan telur. Siang hari sebelum makan mengonsumsi sayuran atau salad dan buah. Setelah itu, dilanjutkan dengan makan.

Sore hari mengonsumsi agar-agar dan buah dan malam hari sayuran, buah, serta dada daging ayam. Di samping pola makan tersebut, Edsa juga rutin berlatih Muaythai dan fitness. “Dalam seminggu hanya hari Sabtu saya off. Olahraga dan melakukan diet sehat sudah menjadi menu keseharian aku,” jelas Edsa yang akan berkuliah di Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) Jurusan Ilmu Pangan.

CTA Banner

Kini, Edsa menjadi lebih percaya diri dengan bentuk tubuh yang proporsional. Sudah tidak ada lagi cibiran atau bullying. Ia membagikan pengalamannya menurunkan berat badan melalui  Youtube dengan judul Edsa Estella My Diet Story. Video yang diunggah belum lama ini sudah ditonton 7 ribu lebih oleh warganet.  “Melalui vlog ini aku membagikan pengalaman aku menurunkan berat badan kepada generasi muda khususnya. Agar mereka bisa lebih percaya diri dengan memiliki bentuk tubuh yang proporsional,” jelasnya.

Di samping kesibukkannya, seperti fitness, muaythai, berorganisasi, dan mempersiapkan kuliah, gadis yang hobi kuliner ini diminta untuk mengajar home work out dan melatih secara privat di pusat kebugaran. Untuk sekali sesi pertemuan, ia bisa mendapatkan bayaran sebesar Rp 400 ribu. “Pokoknya aku nggak mau berhenti berolahraga. Aku juga diminta untuk jadi instruktur privat home workout dan di gym,” jelasnya.

Siapkah diri Anda melakukan diet sehat ala Edsa? Tidak ada kata terlambat untuk mulai hidup sehat. Why we don’t start it now!