Ekonom : BOJ Jangan Tergesa-gesa Melakukan Perubahan Kebijakan, Meski Pasar Panik

Ekonom berpendapat bahwa Bank of Japan (BOJ) mendekati titik untuk memulai normalisasi kebijakan moneter ultra-longgar.

Lebih dari setengah ekonom yang disurvei oleh Bloomberg minggu ini mengatakan mereka tidak melihat kemungkinan adanya perubahan arah kebijakan BOJ tahun ini. Mayoritas ekonom menilai Gubernur Haruhiko Kuroda akan diangkat kembali untuk alasan tertentu, seperti kesinambungan, setidaknya sampai paruh pertama tahun 2018.

Jika BOJ melakukan pengetatan kebijakan tahun ini, ekonom melihat kemungkinan akan dilakukan pada bulan September atau Oktober. Tidak ada yang memprediksikan penyesuaian apapun diputuskan dalam pertemuan kebijakan berikutnya pada 22-23 Januari 2018.

Berdasarkan survei tersebut, langkah BOJ mengurangi pembelian obligasi jangka panjang pada pekan lalu, dinilai market sebagai sebuah “cubitan” yang merupakan sinyal pertama untuk menurunkan stimulus.

Daiju Aoki dari UBS Group AG mengharapkan BOJ menghilangkan ekspektasi tersebut minggu depan, kemungkinan dalam sambutan Kuroda setelah keputusan kebijakan. Namun, menurut dia, BOJ akan menaikkan target yield obligasi tenor 10 tahun pada  bulan Oktober, karena inflasi inti harus stabil di atas 1 persen tahun ini.

Laporan Bloomberg mengindikasikan “Sebagian kecil pembuat kebijakan BOJ menilai perlu adanya diskusi internal sebelum akhirnya mulai membahas normalisasi kebijakan, namun mereka setuju bahwa program stimulus saat ini harus terus di ubah untuk beberapa waktu ke depat,” menurut orang-orang yang mengetahui pembicaraan di bank sentral, berdasarkan laporan Bloombreg, Rabu (18/1) waktu setempat.

Indikator pertumbuhan ekonomi tahun ini masih dalam jangkauan dan kenaikan inflasi yang lambat namun stabil telah mendorong pergeseran arah kebijakan BOJ, dan ekspektasi yang tinggi di kalangan investor.

Namun, titik tolak perubahan kebijakan dalam waktu dekat adalah inflasi, yang hingga kini masih kurang dari target BOJ untuk “naik di atas 2 persen secara stabil.” Sehingga, kenaikan upah dan ekspektasi inflasi masih jauh di bawah level yang bisa disebut kuat.

Menurut Ryutaro Kono, chief Japan economist BNP Paribas SA, penyesuaian apapun terhadap kerangka yield akan terjadi setelah tingkat inflasi stabil di atas 1 persen, Dia tidak memperkirakan pengetatan sampai tahun depan.

Sebelumnya, Pejabat BOJ telah menekankan bahwa berkurangnya pembelian obligasi tidak berimplikasi kearah kebijakan. “Pembelian obligasi tetap sesuai dengan perubahan kebijakan yang dilakukan pada bulan September 2016, ketika BOJ mengubah prioritasnya dari jumlah pembelian aset hingga mengendalikan suku bunga,” kata mereka.

Ekonom : BOJ Jangan Tergesa-gesa Melakukan Perubahan Kebijakan, Meski Pasar Panik

Haruhiko Kuroda, Gubernur BOJ berulang kali mengatakan terlalu dini untuk berbicara secara terbuka tentang kemungkinan arah strategi keluar (normalisasi kebijakan) karena inflasi masih berada jauh dibawah target. Dia mengatakan diskusi semacam itu hanya akan membingungkan pasar.

Sementara itu, beberapa orang yang akrab dengan pembicaraan di bank sentral melihat adanya tanda-tanda perubahan kecil dalam pemikiran beberapa anggota yang tergambar dalam ringkasan pendapat dari pertemuan kebijakan terbaru, pada 20-21 Desember. Di mana ringkasan pendapat tidak harus mewakili konsensus atau bahkan pandangan mayoritas anggota dewan, dan tidak mengidentifikasi nama orang.

Satu hal dalam ringkasan tersebut adalah anggukan terhadap prospek tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

“Bila diharapkan kegiatan ekonomi dan harga akan terus membaik, situasi mungkin terjadi di mana Bank perlu mempertimbangkan apakah penyesuaian tingkat suku bunga akan diperlukan. Pembuat kebijakan mencatat “memperkuat keberlanjutan” kerangka kebijakan sebagai tujuan yang mungkin,” ungkap anggota dewan BOJ dalam ringkasan tersebut.

Ringkasan Desember mencatat untuk pertama kalinya, berdasarkan pembelian aset berisiko bank sentral seperti exchange-traded funds, bahwa “harga saham dan keuntungan perusahaan telah meningkat secara substansial.” Seorang anggota melihat kondisi tersebut, menunjukkan bahwa kebutuhan untuk menurunkan premi risiko melalui pembelian aset menurun.

Pejabat BOJ juga melihat kemungkinan bahwa bank sentral tidak akan mengurangi perkiraan inflasi saat merilis prospek kuartalannya setelah pertemuan kebijakan dua hari berikutnya, yang akan berakhir pada 23 Januari. Ini pertama kalinya terjadi dalam empat tahun terakhir.

Sebagian besar ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan tidak ada perubahan pada pengaturan kebijakan minggu depan.