Pergerakan emas pekan ini sangat bergantung pada pergerakan dolar dan kelanjutan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina. Jika dolar kembali melemah dan salah satu dari negara yang tengah berseteru dalam konteks perdagangan mengeluarkan pernyataan negatif kembali, maka harga emas bisa tetap nyaman di zona hijau.

Ronald Leung, Kepala Dealer Lee Cheong Gold Dealers di Hong Kong mengatakan pelemahan dolar AS dari level tertinggi membuat emas berdenominasi dolar lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

“Sementara perang dagang hanya mempengaruhi pergerakan emas untuk sesaat saja. Kecuali kalau dolar melemah, jangan berharap emas bergerak terlalu tinggi,” ungkap Leung, dikutip dari Reutres.

Jim Wyckoff, Analis Teknikal Senior Kitco, juga melihat pelemahan dolar mendukung penguatan emas. Namun dia melihat sepekan lalu emas telah berperilaku seperti komoditas mentah bukan lagi aset safe-haven.

“Emas didukung oleh kenaikan kuat harga minyak mentah, dengan Nymex berjangka naik sekitar US$ 2 per barel, setelah OPEC sepakat untuk menaikkan produksi minyak kolektifnya hanya 1 juta barel per hari,” ungkapnya dikutip dari laman Kitco.

Sementara itu, Simona Gambarini, Ekonom Capital Economics mengatakan pergerakan emas saat ini sangat tergantung dari arah pergerakan dolar. Bahkan saat emas tidak banyak mengalami peningkatan meski ketidakpastian dan risiko geopolitik meningkat.

“Tapi jika ada perkembangan lebih lanjut dari perang dagang yang melemahkan dolar AS, harga emas bisa melonjak melewati US$ 1.300 per ounce,” terangnya.

Menurutnya, eskalasi yang mungkin dapat berdampak positif bagi emas adalah karena ketidakpastian. Pada saat yang sama ketegangan perdagangan yang melibatkan AS berdampak terhadap inflasi dan ini juga akan memberi sentimen positif bagi emas.

Para ekonom juga melihat ekspektasi inflasi AS yang meningkat sejak awal 2018 mendorong kenaikan harga emas. Colin Cieszynski, Kepala Strategi Pasar SIA Wealth Management memperkirakan emas akan bullish pada pekan ini.

“Secara teknis emas terlihat siap untuk bouncing, RSI (Relative Strength Indexoversold dan berbalik. Di sisi lain, dolar AS terlihat lelah dengan divergensi RSI negatif yang muncul. Dengan semua berita bank sentral sekarang keluar dan risiko perang perdagangan dipanggang, saya pikir emas dan dolar akan mengalami koreksi,” tuturnya.

George Gero Managing Director RBC Capital Markets mengatakan pekan ini akan akan sangat menarik karena euro akan rally mengambil keuntungan dari dolar.

“Jika emas tetap di sekitar US$ 1.270 per ounce, itu akan menjadi non-event yang mengecewakan bagi para pedagang. Tapi, saya bisa melihat reli kejutan yang datang dari pemburu murah dan short covering jika pasar tetap di atas US$ 1.270. Ini bisa menjadi menarik, bisa melihat volatilitas,” kata Gero.