Emas diperkirakan mampu menembus level US$ 1.400 per ons dalam dua bulan ke depan. Kenaikan akan menjadi level tertinggi sejak empat tahun terakhir.

Sejak beberapa bulan terakhir, emas mulai beranjak naik. Pada perdagangan Kamis di Amerika Serikat (AS), harga emas mencapai US$ 1.366,15 per ons, level tertinggi sejak Agustus 2016. Peluang kenaikan ini juga akan berlanjut meski pada perdagangan Asia dan Eropa, emas sempat terkoreksi. Pengiriman emas diprediksi akan mengalami kenaikan hingga 0,2 persen menjadi US$ 1.361,12 perons, pukul 11.50 waktu New York.

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu pendorong kenaikan emas, bahkan sejak pertengahan Desember lalu. Emas naik lebih dari 8%. Investor di pasar kini menilai perlunya perlindungan terhadap investasi mereka karena penurunan di pasar saham dan kenaikan inflasi. Tekanan dolar AS yang terjadi sejak Senin lalu mendorong harga emas naik sekitar 2,5%.

Dolar AS mengalami tekanan karena arah kebijakan proteksionisme yang dilakukan Presiden AS Donald Trump tentang bea masuk impor untuk produk mesin cuci dan panel surya, dan pasar juga menunggu kebijakan,” demikian pidato “America First” oleh Donald Trump dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Menteri Keuangan (Menkeu) AS Steven Mnuchin menegaskan pelemahan dolar merupakan hal bagus untuk perekonomian mereka. Setelah pernyataan sang menteri, dolar jatuh ke level terendah sejak 2014, terlihat di Indeks Spot Bloombreg. Pelemahan dolar juga terjadi saat harapan pasar terhadap kebijakan bank setral lain seperti Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang yang diperkirakan akan melakukan pelonggaran stimulus.

Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di broker Oanda Corp, menilai sinyal pemerintah AS dan bank sentral lain akan lebih memperdalam pelemahan dolar. Jika berlanjut, Innes melihat peluang kenaikan emas akan terjadi dalam waktu dekat. Bahkan dirinya memprediksi emas akan mampu menyentuh level US$ 1,400 per ons dalam dua bulan ke depan.

“Dengan dolar yang “rawan dan tidak berdaya,” komentar Menkeu dan Sekretaris Perdagangan AS menambahkan “bahan bakar ke api,” (Semakin memberi sentimen negatif untuk pelemahan dolar),” kata Innes.

Daniel Hynes, analis Australia & New Zealand Banking Group Ltd. juga melihat hal yang serupa. Menurutnya dengan tekanan yang terjadi pasar saham dan uang membuat pergerakan pasar beralih ke emas. Ia memperkirakan pelemahan dolar yang akan berlanjut dan meningkatnya koreksi di pasar ekuitas akan menjadi dukungan tersendiri bagi penguatan emas.

“Kami melihat sejumlah penggerak pasar keuangan yang sedang berlangsung menjaga pasar emas tetap ketat,” ungkapnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Imlek

Di lain sisi, penguatan emas juga akan didorong tingginya permintaan, sesuai tren konsumen di Cina menjelang tahun baru Cina (Imlek) yang akan jatuh pad 18 Februari. Mendekati Imlek, warga Cina akan berbondong-bondong membeli emas. Kondisi ini akan mendorong peningkatan harga emas sedunia.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang bisa mencapai 2017 mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,9% lebih tinggi dari perkiraan banyak analis.