Emas Masih Berpotensi Menguat

Setelah sepekan berada di bawah tekanan, harga emas mulai menggeliat. Seperti dikutip dari Kontan, Selasa (27/2) pukul 07.53 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2018 di Commodity Exchange berada di US$ 1.335,60 per ons troi.

Harga emas menguat 0,21 persen dibanding harga penutupan kemarin. Senin (26/2) pukul 08.00 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2018 di Commodity Exchange turun tipis ke US$ 1.330,20 per ons troi. Akhir pekan lalu, harga emas ditutup pada US$ 1.330,30 per ons troi.

Dalam sepekan terakhir, harga emas turun 0,07 persen. Pergerakan harga emas sejak awal pekan lalu pun hanya berada pada kisaran antara US$ 1.330 hingga US$ 1.333 per ons troi. Melansir Reuters, Naeem Aslam, chief market analyst Think Markets mengatakan, level support harga emas adalah US$ 1.300 per ons troi.

“Imbal hasil obligasi yang mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor penekan harga emas,” kata Mike O’Donnell, market strategist RJO Futures seperti dilansir Reuters.

Emas Masih Berpotensi Menguat

Di dalam negeri, harga pecahan satu gram emas batangan bersertifikat di situs Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam) berada pada level Rp 640.000 pada Senin (26/2). Posisi harga tersebut turun tipis Rp 1.000 dari harga Jumat (23/2). Sementara, harga pembelian kembali (buyback) emas Antam kemarin flat di Rp 574.000 per gram.

Wahyu Triwibowo Laksono, analis PT Central Capital Futures menuturkan, secara umum kinerja emas dunia alias XAU/ USD masih berada dalam tren bullish atau menguat baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang.

Untuk jangka waktu singkat, Wahyu memprediksi kinerja emas dunia masih bergerak konsolidatif pada kisaran US$ 1.300-US$ 1.360 per ons troi, sebagaimana pergerakannya sejak awal tahun ini.

Tekanan terhadap kinerja emas, kata Wahyu, datang dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed), yang berencana menaikkan tingkat suku bunga acuan. Meski demikian, menurut Wahyu, tekanan tersebut hanya bersifat sementara.

Sejauh ini, imbuh Wahyu, pelemahan kinerja emas masih bersifat korektif. Indikasi akan adanya kenaikan tingkat suku bunga AS, US Fed Fund Rate, pada Maret mendatang dan laju inflasi AS menuju angka dua persen, menjadi ancaman kinerja emas.

“Secara historis, kenaikan tingkat suku bunga acuan US Fed Fund Rate, tidak bisa menahan laju kenaikan harga emas beberapa tahun ini,” ucap Wahyu kepada wormtraders.com.

Di lain sisi, kenaikan harga komoditas secara global yang terjadi sejak 2016 bisa menjadi salah satu penopang penguatan kinerja emas. Sehingga, menurut Wahyu, kinerja emas pada 2018 masih berpotensi bullish.

Emas Masih Berpotensi Menguat

Wahyu merinci, koreksi kinerja emas yang terjadi pada Kamis (8/2) lalu, dan membuat salah satu elemen safe haven ini tersungkur ke level US$ 1.306 per ons troi, masih menguji kekuatannya di posisi US$ 1.360 per ons troi pada pertengahan Februari ini.

“Jadi, kebijakan The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuan bukan merupakan ancaman bagi kenaikan kinerja emas. Karena banyak bank sentral di dunia juga turut terancam inflasi dan berpotensi menaikkan tingkat suku bunga acuan,” paparnya. “Semua faktor itu akan menjadi sentimen positif bagi kinerja emas jika terkait dengan inflasi. Karena emas merupakan inflationary​ hedging alias lindung nilai inflasi.”