Lembaga keuangan global sekaligus pemain besar di bursa komoditas global, Goldman Sachs Group Inc, menyangkal anggapan bahwa perang dagang Amerika Serikat (AS)-Cina merupakan ancaman serius terhadap pasar bahan mentah (komoditas). Lembaga ini mengatakan bahwa sebagian besar komoditas tidak akan terkena dampak signifikan dari perang dagang terseut.

“Bahkan sekaranglah saatnya untuk mulai berinvestasi di sektor komoditas, ketika harga akhir-akhir ini sedang dalam penurunan,” ungkap Goldman dalam laporan terbarunya, seperti dikutip Bloomberg.

Dalam laporan tersebut, Goldman menyebutkan dampak ekonomi dari perang tarif AS-Cina, termasuk setelah diterapkannya tarif AS terhadap impor produk Cina pada Jumat ini, dan kemungkinan aksi balasan Cina, hanya kecil saja. Goldman memperkirakan hasil investasi komoditas selama 12 bulan akan mencapai 10 persen, seiring melemahnya US$ dan bangkitnya kembali permintaan minyak mentah dunia.

“Dampak perang dagang pada bursa komoditas akan sangat kecil, dengan pengecualian kedelai karena pemerataan kembali pasokan secara penuh tidak memungkinkan,” kata Analis Goldman, termasuk Jeffrey Currie, dalam laporan tersebut. “Ini konsisten dengan pandangan para ekonom kami bahwa dampak makro ekonomi dari perang dagang mungkin sangat kecil,” katanya.

Sebelumnya, harga sejumlah bahan baku terus tertekan. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran yang berkembang di kalangan investor global tentang dampak potensial dari tarif perdagangan yang direncanakan Washington dan ancaman respons dari Cina.

Pada Juni lalu, Bloomberg Commodity Index mencatatkan penurunan bulanan terbesar sejak pertengahan 2016, dengan kerugian terbesar pada tembaga dan kedelai. Sebaliknya, pasar energi menjadi fokus pada bulan itu karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan Rusia sepakat untuk menambah lebih banyak pasokan setelah harga minyak mentah melonjak.

Menurut Goldman, meski komoditas mempertahankan status mereka sebagai kelompok aset berkinerja terbaik pada tahun 2018, kinerja komoditas pada mengalami kemunduran substantial. Hal ini didorong oleh melemahnya permintaan pasar negara berkembang (emerging markets), kekhawatiran perang dagang, dan pemangkasan pasokan minyak OPEC+.

“Semua kekhawatiran ini telah jenuh. Bahkan kedelai, yang paling terbuka dari semua aset untuk terkena dampak perang dagang, sekarang sudah di posisi beli (buy),” imbuh Goldman.

 

Jelang Tenggat Waktu

Menjelang tenggat waktu Jumat, para pembuat kebijakan di Beijing terus menghindari kemungkinan terjadinya pertarungan panjang, yang mereka sebut tidak akan menjadi agresor. Namun, Juru Bicara Kementerian Perdagangan Cina, Gao Feng menegaskan, Cina tidak akan tunduk pada ancaman atau pemerasan dan akan mendorong balik jika AS terus maju dengan pemberlakuan tarif.

Dalam beberapa bulan terakhir, Goldman secara konsisten berpandangan optimistis terhadap prospek bahan mentah. Mereka meyakini akan mendapatkan keuntungan pada tahap akhir siklus ekonominya. Dalam salah satu proyeksinya, pada Februari lalu, Goldman memperlihatkan sikapnya yang semakin bullish (menguat) pada komoditas dibanding sebelum-sebelumnya, sejak akhir periode siklus super pada tahun 2008.

CTA Banner

Terhadap komoditas logam, Goldman percaya kekhawatiran domestik Cina akan ketersediaan kredit telah menjadi pendorong utama pelemahan baru-baru ini. Apalagi disulut oleh isu perang dagang dan diatur untuk berbalik arah mengingat pergeseran kebijakan Cina, termasuk penurunan persyaratan cadangan bank, belum lama ini.

“Cina ingin menegosiasikan perang dagang dari posisi ekonominya yang kuat, yang akan memudarkan retorika perang dagang tetapi membeli realitas perang dagang yang kemungkinan akan kecil,” kata Goldman.

Sementara itu, lembaga keuangan  seperti Morgan Stanley, memilih bersikap hati-hati. Morgan Stanley telah menandai adanya risiko terhadap konsumsi akibat potensi memburuknya pertikaian perdagangan global dan dari perlambatan di Cina.

“Meningkatnya ketegangan perdagangan global berisiko menghancurkan permintaan di pasar komoditas,” kata Morgan Stanley.