Harga logam mulia tertekan pada perdagangan di ujung pekan ini, namun berhasil berbalik arah ke atas (rebound) dari posisi terendah seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta pasar modal yang pulih.

Tetapi secara pekanan harga emas masih belum berada di jalurnya, seiring harganya yang hanya mampu naik tipis di tengah percepatan atau eskalasi tensi dagang antara AS dan Cina.

Harga emas di pasar spot turun 0,29 persen ke harga US$ 1.253,66 per tray ounce, mengakhiri harga terlemah di US$ 1.252,15 per tray ounce. Harga ini mengarah ke penguatan pekanan pertama dalam empat pekan terakhir. Sementara harga emas berjangka untuk pengiriman Agustus 2018, turun US$ 3 per tray ounce ke posisi US$ 1.255,80 per tray ounce.

Harga Bangkit, Minyak Bervariasi

Nilai tukar US$ jatuh setelah data menunjukkan angka pengangguran periode Juni 2018 naik dan tingkat upah tumbuh sedikit lebih kecil dari estimasi. Perekonomian menyerap lapangan kerja lebih banyak dari perkiraan.

Pertumbuhan upah mendekati sinyal potensi inflasi yang dapat mendorong Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga lebih sering. Pelemahan US$ juga cenderung mengangkat harga emas.

Kebijakan tarif bea impor pemerintah AS terhadap barang-barang Cina senilai US$ 34 miliar berlaku pada Jumat akhir pekan ini. Pemerintah Cina membalas tindakan tersebut dengan menerapkan tarif impor 25 persen kepada barang impor asal AS.

“Penerapan tarif sudah priced in (disesuaikan) padaharga emas. Emas butuh lebih banyak lagi sentimen perang dagang untuk mendongkrak harga lebih tinggi, ini butuh gejolak di pasar saham, data makro ekonomi yang lemah serta sikap lemah (dovish) The Fed,” kata Analis pada RJO Futures, Josh Graves.

Menurut dia, harga emas akan diperdagangkan di kisaran US$ 1.275-1.280 per tray ounce sebelum menemukan sentimen yang bisa mendorong harganya.

Analis ThinkMarket, Naeem Aslam, berpendapat para trader sangat hati-hati ketika mencermati emas. Harga intraday membentuk sinyal menguat (bullish) dan menunjukkan harga berpotensi menguji level US$ 1.280 per tray ounce dalam hari-hari mendatang jika US$ berlanjut melemah.

Harga Minyak

Sementara harga minyak masih bervariasi (mixed) pada perdagangan akhir pekan ini. Minyak mentah jenis WTI bergerak menguat sementara minyak mentah jenis Brent terkoreksi turun di tengah sentimen tensi perdagangan global dan kenaikan produksi minyak Arab Saudi.

Harga minyak berjangka WTI naik US$ 86 sen ke posisi US$ 73,8 per barel. Sedangkan Brent turun US$ 23 sen ke harga US$ 77,16 per barel. Secara pekanan, harga minyak WTI turun 0,5 persen sedangkan Brent turun 3 persen.

Aalis Sektor Energi Mizuho yang berbasis di New York, Bob Yawger, mengatakan pasar komoditas minyak memiliki sedikit rally atau tren naiknya yang terwujud khususnya pada minyak WTI. Menurut Yawger, rally tersebut tampaknya menjadi situasi jual, sehingga terjadi penurunan 2 persen pada sesi hari sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis, minyak WTI memang bergerak melemah setelah data memperlihatkan secara tak terduga persediaan minyak AS naik mencapai 1,3 juta barel. Sedangkan Brent masih mengalami kesulitan mendapatkan daya tarik bullish yang independen, kata CEO Ritterbusch and Associates, Jim Rittersbusch.

Menurut Rittersbusch, ketersediaan minyak Arab Saudi yang sedang ditingkatkan dengan mengurangi harga jual resmi ke Eropa dan wilayah lain memberikan perlawanan yag kuat terhadap aktivitas ekspor Libya yang dibatasi. Selain menurunkan harga pada Agustus, Arab Saudi juga mengatakan kepada negara-negara pengekspor minyak dunia (OPEC) bahwa negara tersebut menaikkan produksi hampir 500 ribu barel per hari pada bulan lalu.CTA Banner

Pemangkasan produksi OPEC dan negara mitra lainnya yang disepakati pada Januari 2017 telah mengurangi banjir pasokan minyak mentah di pasar global. Penurunan pasokan Venezuela, Angola dan Libya secara tidak sukarela membuat pengurangan pasokan lebih besar meskipun OPEC telah menyepakati kenaikan produksi secara sangat moderat.