Korelasi harga minyak dengan dolar kembali terlihat. Harga minyak naik saat dolar turun, dan sebaliknya. Antara tahun 2014-2016, hubungan ini menghilang karena pasokan yang berlebih.

Kebijakan pengetatan pasokan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC membuat korelasi terjadi kembali, yang tampak pada awal tahun ini. Indeks minyak dan dolar Amerika Serikat (AS) berkorelasi sebesar -0,86 dan -1 menjadi hubungan terbalik sempurna.

Pergerakan di pasar juga menjadi semakin kuat karena meretas korelasi antara minyak, saham, obligasi dan dolar.

Meski demikian harga minyak masih memiliki dukungan lain yaitu penurunan produksi oleh produsen besar baik OPEC maupun non-OPEC serta permintaan yang kuat.

Baca juga: Relung-Relung Sepi Sumur Minyak AS

Jon Rigby, analis UBS, dalam suatu catatan mengatakan produksi OPEC dan non-OPEC, serta pengetatan produksi minyak AS akan menjadi fokus pada tahun ini. Dia memperkirakan akan ada pertumbuhan permintaan sebesar 1,3 juta pada 2018, setelah tahun lalu permintaan global naik 1,6 juta barel per hari atau sekitar 1,5 persen.

“Permintaan secara diam-diam mendukung pengetatan pasar selama tahun lalu,” ungkapnya seperti dikutip Reuters.

Berdasarkan survei media yang sama, produksi OPEC pada Januari naik dari level terendah dalam delapan bulan. Berdasarkan data OPEC, Rusia menjadi negara dengan kepatuhan paling tinggi terhadap penurunan produksi, bahkan saat produksi berada pada level 10,95 juta barrels per day atau disingkat bpd.

Baker Hughes dari Kantor Informasi Energi AS atau EIA mengatakan kebijakan pemotongan oleh OPEC mengimbangi produksi AS yang lebih dari 10 juta bpd pada November. Untuk pekan kedua Februari, Baker Hughes menyatakan pengebor akan secara keseluruhan menambah enam rig produksi menjadi  765, kenaikan kedua minggu berturut-turut.

Baca juga: Rusia-OPEC Pertahankan Pemangkasan Produksi 

Pada perdagangan Jumat, harga minyak turun meski produksi OPEC dan permintaan meningkat. Tekanan terhadap harga minyak turut ditopang penguatan yang terjadi pada dolar, seiring menguatnya laporan data tenaga kerja AS. Bulan Januari, pertumbuhan lapangan kerja dan upah mencatat kenaikan tahunan terbesar selama lebih dari 8,5 tahun.

Abhishek Kumar, analis energi senior Global Gas Analytics Interfax Energy di London menjelaskan harga minyak mulai mendapat tekanan karena produksi minyak di AS meningkat. Ditambah lagi dolar yang mulai rebound. Harga minyak saat ini berada pada level overbought yang membuat investor melakukan aksi ambil untung.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS turun 46 sen atau 0,7 persen menjadi US$ 65,33 pada Jumat malam waktu Indonesia bagian barat dan telah kehilangan 1,3 persen dalam sepekan.

Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi patokan global, turun sebesar US$ 1,02 atau 1,5 persen menjadi US$ 68,62 per barel.