Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Rabu (10/1) atau kamis pagi (11/1) hingga mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Penguatan harga minyak antara lain terpengaruh oleh menurunnya angka pasokan dan produksi minyak mentah AS sebanyak hampir 4,9 juta ton barel, lebih tinggi dari perkiraan penurunan sebelumnya yang hanya sebesar 3,9 juta berel.

Harga minyak mentah mampu bertahan di level tertinggi tiga tahun terakhir pada Kamis ini (11/1). Hal itu didorong oleh penurunan produksi minyak AS serta persediaan minyak mentah yang lebih rendah. Para analis mengungkapkan anjloknya pasokan dan produksi minyak antara lain karena dipengaruhi cuaca ekstrem yang dingin di AS.

Harga Minyak Mendekati Level Tertinggi

“Pasokan minyak rendah dikombinasikan dengan produksi minyak menguat menjadi sentimen negatif untuk harga. Namun, pelaku pasar dapat memanfaatkan penurunan produksi tajam untuk membeli,” ujar Analis Commerzbank AG, Carsten Fritsch, Kamis (11/1/2018).
Harga minyak mentah berjangka AS di West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 63,53 per barel atau meningkat 61 sen. Kenaikan harga terebut mendorong harga minyak mendekati level tertinggi sejak 9 Desember 2014 di US$ 63,67 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$ 69,14 per barel, meningkat 38 sen. Angka terebut juga mendekati level tertinggi yang sebelumnya pernah dicapai di level US$ 69,37 per barel, pada Mei 2015.

Pasar minyak telah menguat selama berminggu-minggu, dengan harga minyak mentah AS pada harga tertinggi yang tidak terlihat sejak akhir 2014, dan minyak mentah Brent kurang dari satu dolar AS per barel.

Pergerakan harga minyak sebelumnya datang dari penurunan produksi minyak yang dipimpin oleh negara pengekspor minyak bumi (OPEC) serta Rusia yang mulai sejak Januari 2017 dan diprediksi berlangsung hingga tahun ini.

Namun kabar yang datang sejak semalam mengenai penurunan produksi dan persediaan minyak di AS turut mempercepat peningkatan harga minyak. Menurut laporan Energy Information Administration (EIA), Produksi A.S. turun 290.000 barel per hari menjadi 9,5 juta barel per hari (bpd). Hal tersebut kemudian menyebabkan penghentian output AS menembus 10 juta bpd.

“Gangguan pasokan dan penurunan persediaan AS dan global telah mendorong kenaikan harga minyak mentah. Adapun berita bullish cenderung mendapat perhatian lebih dari pada sinyal bearish,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank dalam sebuah catatan, seperti yang dikutip dari laman Reuters.