Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (5/7) berhasil ditutup naik tipis 0,1 persen atau 5 poin ke level 5.739. IHSG melanjutkan kenaikan dari hari sebelumnya, meski hampir di sepanjang perdagangan kemarin IHSG mendapat tekanan jual dan bergerak di teritori negatif.

Hanya saja, kenaikan IHSG selanjutnya dinilai masih memiliki banyak risiko. Apalagi kondisi IHSG saat ini sudah berada di area jenuh jual (oversold) yang membuat indeks berada di fase konsolidasi dan rentan berubah arah atau tren.

Analis Senior KGI Sekuritas Indonesia, Yuganur Wijanarko, mengatakan koreksi yang lumayan tajam akibat volatilitas regional, membuat IHSG masuk ke zona jenuh jual. Sehingga dapat dikatakan pasar masuk dalam fase konsolidasi dan rentan berubah menuju tren turun.

“Karena itu pelaku pasar perlu memperhitungkan jual rugi (cut loss point) ketat dan disiplin untuk menjual saham saat harga naik (sell on strength) dalam melaksanakan trading cepat,” paparnya.

Pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan berada pada batas bawah (support) 5.620-5.540-5.450-5.250 poin. Sementara batas atas (resistance) adalah 5.780-5.840-5.900-5.950 poin.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, mengungkapkan tekanan jual tidak kunjung usai pada perdagangan jelang akhir pekan ini. Pelaku pasar juga belum terlihat kembali masuk, bahkan cenderung menahan diri dalam menyikapi sentimen yang ada.

Di sisi lain, kembali melemahnya rupiah dan bursa saham Asia menjelang diberlakukannya tarif dagang fase pertama Amerika Serikat (AS) terhadap barang-barang Cina, direspons negatif. “Bahkan tidak jarang yang memanfaatkan kenaikan sebelumnya untuk kembali melakukan aksi ambil untung (profit taking),” ujar dia.

Saham-saham perbankan yang sebelumnya menguat, kali ini kembali tertekan dengan adanya aksi jual tersebut. Rotasi sektoral pun kembali terjadi, di mana kali ini sektor pertambangan yang ditopang sebagian saham-saham batu bara dan infrastruktur dengan penguatan sebagian saham-saham transportasi memimpin kenaikan.

“Bahkan penguatan sektor-sektor ini mampu mengembalikan IHSG ke zona hijau yang sepanjang perdagangan berada di teritori merah,” jelasnya.

Pada perdagangan kemarin, support 5.715 sempat ditembus. Namun tidak lama kemudian IHSG mampu berbalik positif dan bergerak sesuai dengan target resistance sebelumnya di 5.730-5.762.

Masih fluktuatifnya sentimen di pasar, jelas dia, diperkirakan masih akan memengaruhi ritme pasar ke depan. Diharapkan IHSG selanjutnya dapat bertahan di atas support 5.618-5.723 untuk mencegah kembali pelemahan lebih dalam.

Resistance diharapkan dapat menyentuh kisaran 5.748-5.773 untuk mengonfirmasi kenaikan lanjutan,” pungkasnya.

 

Bursa Asia Melemah

Pelemahan indeks saham di bursa saham Asia berlanjut pada sesi sore perdagangan Kamis (5/7). Para pemodal tetap bersikap hati-hati menjelang tenggat waktu penerapan kebijakan perang tarif AS-Cina.

Indeks acuan pasar saham Cina kompak melemah. Indeks Shenzhen turun 2,2 persen. Sementara Indeks Shanghai melemah signifikan.

Saham-saham tambang minyak dan ritel mempelopori pelemahan yang terjadi di pasar saham Jepang. Di mana, Indeks Nikkei 225 melemah 170 poin. Saham unggulan di bidang ritel, Fast Retailing tumbang 2,5 persen.

Sementara itu di pasar saham Korea Selatan (Korsel), Indeks Kospi berubah arah melemah sebesar 0,4 persen. Hal tersebut seiring pelemahan saham-saham unggulan teknologi seperti Samsung Electronics yang turun 0,7 persen.

CTA Banner

Indeks S&P/ASX200 di pasar saham Australia bergerak melawan arus dengan berhasil menguat 0,5 persen. Adapun indeks acuan pasar saham seluruh Asia Pasific (tidak termasuk bursa Jepang), Indeks MSCI terkoreksi turun 0,5 persen.

Perang dagang menjadi sentimen yang membebani pelaku pasar. Hal ini terjadi jelang penerapan tarif impor (perang tarif impor) AS dan Cina. Kedua negara menyatakan tarif impor akan berlaku pada 6 Juli 2018.

Pemerintah AS akan menerapkan tarif 25 persen kepada barang impor dari Cina dengan nilai US$ 34 miliar. Pemerintah Cina membalas tindakan tersebut dengan kebijakan serupa.

Analis Mizuho Bank, Weiliang Chang, dalam risetnya seperti dikutip Bloomberg, menilai ketidakpastian atas dampak penerapan tarif impor terhadap perdagangan memicu pelemahan animo terhadap pasar saham. Walaupun dampak penerapan tarif di gelombang pertama terhadap perekonomian relatif kecil, para investor telah gugup terhadap potensi aksi balasan yang dapat menyebabkan perang dagang.

Pasar saham Cina telah terpukul menjelang tenggat waktu penerapan kebijakan tarif impor oleh AS. Indeks Shanghai jatuh 20 persen dan mengarah ke tren penurunan (bearish).

“Koreksi tajam pasar saham Cina baru-baru ini dikaitkan dengan tensi perang dagang, yang mana ketakutan tersebut didahului kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Cina,” ujar Head of Emerging Market Asia Economics and Strategy pada Citi Global Market Asia, Johanna Chua.