Indeks Saham Global Terendah sejak September 2011

Pergerakan saham global pekan ini tercatat sebagai yang terburuk sejak September 2011. Pelemahan diprediksi masih terus berlanjut.

Indeks saham global MSCI merosot hingga 6,2 persen pekan ini. Pada penutupan pasar saham Amerika Serikat akhir pekan ini, indeks menyentuh level 6,1 persen. Angka merupakan yang terendah sejak September 2011.

Sementara itu, pasar Asia pada akhir pekan kembali melemah, menyusul ekuitas Cina yang turun 4 persen. Kedua indeks utama Beijing bahkan mengalami penurunan terbesar dalam satu hari sejak Februari 2016.

Saham diperdagangkan di Eropa dalam posisi rendah, lantaran investor terus memantau rilis laporan perusahaan dan gejolak pasar dunia.

Baca juga: Masihkah Pasar Saham Menjanjikan?

Banyak pengamat memercayai volatilitas yang terjadi dalam sepekan terakhir merupakan cerminan penurunan yang telah lama tertunda, setelah kenaikan substansial pada 2017 hingga awal 2018. Penurunan juga didorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dari perkiraan.

Ian Shepherdson, kepala ekonom di Pantheon Macroeconomics, mengatakan yang terjadi di pasar sepekan ini belum menggambarkan kondisi makro ekonomi. Ia menyakini bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga sepanjang 2018.

“Saya tidak bisa menyatakan pasar telah mencapai dasar,” terangnya.

Saham AS pada umumnya bergerak lebih tinggi selama sekitar sembilan tahun. Selama waktu itu, indeks menguat sekitar 300 persen, tidak termasuk dividen.

Indeks Saham Global Terendah sejak September 2011

Sementara itu, Christian Gattiker, kepala ahli strategi dan kepala riset Julius Baer, mengatakan sebenarnya pengamat pasar sering mengingatkan sepanjang tahun lalu mengenai rekor bull run yang dinilai terlalu tinggi. Secara historis, fenomena ini perlu diwaspadai.

“Saya meragukan kita telah bersama-sama memahami kebenaran di balik pergerakan pasar melalui ‘buku sejarah’ keuangan,” paparnya seperti dikutip CNBC.

Pekan silam pasar saham sedunia didera aksi jual yang luar biasa masif. Aksi jual turut didorong data terbaru Departemen Tenaga Kerja AS, juga prediksi The Fed bakal memperkuat suku bunga acuan, lebih cepat dari perkiraan sejumlah analis.