Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan iklim investasi di Indonesia masih tetap positif. Hal itu ditunjukkan dengan peningkatan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada kuartal II 2018 yang mencapai level 112,82.

Dibandingkan kuartal I 2018, ITB hanya 106,28. BPS mengklaim peningkatan ITB ini menunjukkan kondisi bisnis secara umum terus tumbuh dengan optimisme pelaku bisnis lebih tinggi.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan optimisme pelaku bisnis terjadi pada seluruh kategori lapangan usaha. Namun peningkatan ITB tertinggi terjadi pada sektor pengadaan listrik dan gas yang mencapai 126,77.

Hal ini sejalan dengan program pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt (mw) dan juga berbagai proyek pemerintah terkait pengembangan gas nasional. Selain itu, sektor usaha bidang transportasi dan pergudangan menyusul dengan nilai ITB mencapai 126,67. Kemudian ITB tertinggi ketiga dari sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang yang mencapai 124,34.

“Kategori ITB terendah terjadi pada sektor usaha konstruksi sebesar 106,04, sektor tambang dan galian sebesar 102,35, dan real estat sebesar 101,96,” kata Suhariyanto.

Dikatakannya, komponen pembentuk ITB pada kuartal II 2018 di antaranya pendapatan usaha, penggunaan kapasitas usaha dan rata-rata jumlah jam kerja. Masing-masing komponen pembentuk ITB tersebut nilainya mencapai 122,98, 114,60, dan 100,89.

Indeks Konsumen

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Juli 2018 mengindikasikan optimisme konsumen yang tetap terjaga. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2018 yang tercatat 124,8 atau berada dalam zona optimistis (di atas 100). Meskipun tetap optimis, IKK Juli 2018 lebih rendah dibandingkan dengan IKK pada bulan sebelumnya sebesar 128,1.

Keyakinan konsumen tetap terjaga ditopang oleh relatif stabilnya Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) dengan masih kuatnya ekspektasi penghasilan ke depan. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat melemah.

“Terutama dipengaruhi oleh menurunnya keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini dan keyakinan konsumen untuk melakukan pembelian barang tahan lama,” ujar BI.

Hasil survei mengindikasikan bahwa tekanan kenaikan harga pada 3 bulan mendatang (Oktober 2018) diperkirakan meningkat dari bulan sebelumnya dipengaruhi oleh kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi. Sementara itu, meningkatnya perkiraan tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang (Januari 2019) disebabkan peningkatan permintaan pada periode tahun baru.

BPS sendiri melaporkan perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,27 persen (year on year/yoy) pada kuartal II 2018. Angka itu lebih tinggi dibanding capaian pada kuartal II 2017 yang sebesar 5,01 persen.

Begitu pula jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal II 2016 yang sebesar 5,21 persen. “Ini sesuatu yang bagus karena pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya,” kata Suhariyanto.

Berdasarkan pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,14 persen (yoy). Angka itu lebih baik dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal-II 2017 yang hanya 4,95 persen (yoy).

BPS mencatat konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur ekonomi dengan porsi sebesar 55,43 persen. Sementara untuk Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi masih menunjukkan perkembangan positif meski mulai melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Realisasi investasi pada kuartal II 2018 tumbuh sebesar 5,87 persen (yoy) dengan porsi pada struktur ekonomi sebesar 31,16 persen. Angka itu masih meningkat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II 2017 sebesar 5,34 persen (yoy).

CTA Banner

“Meski begitu, invetasi terpantau mulai melambat dari kuartal pertama 2018 yang tumbuh sebesar 7,95 persen (yoy),” paparnya.

Sementara, kinerja ekspor pada kuartal II 2018 tumbuh sebesar 7,7 persen (yoy) dengan porsi terhadap PDB sebesar 20,35 persen. Impor yang menjadi faktor pengurang ekspor tumbuh jauh lebih tinggi, yakni sebesar 15,17 persen (yoy) dengan porsi terhadap PDB sebesar 20,87 persen (yoy).