Pil pahit harus ditelan mentah-mentah oleh produsen pesawat Boeing Co kemarin (26/1) setelah Komisi Perdagangan Internasional (ITC) Amerika Serikat (AS) menangguhkan hukuman tarif serta memutuskan bahwa pemasaran pesawat Bombardier (BBd.TO) Jet C-Series terbaru untuk maskapai penerbangan AS yang dijual di bawah harga tidak “mencederai” persaingan dagang dengan Boeing. Akibat putusan tersebut, harga saham Bombardier melesat 15 persen.

Keputusan tersebut membawa kegetiran bagi hubungan dagang antara AS dengan Kanada. Seperti diketahui, Bombardier merupakan manufaktur pesawat terbang asal Kanada yang tak hanya berjaya di negaranya, tapi juga memiliki lebih dari 4.000 orang karyawan di Irlandia Utara, termasuk 1.000 karyawan pada sebuah pabrik pembuatan sayap pesawat.

Dalam sebuah pernyataan, Bombardier menyebut keputusan tersebut sebagai sebuah kemenangan untuk inovasi, persaingan dan aturan hukum.

Sementara itu di sisi lain, Boeing mengatakan kekecewaannya karena Komisi Perdagangan Internasional tidak menyadari potensi kerugian yang bakal dialami Boeing bisa mencapai miliaran dolar dari subsidi pemerintah yang diterima Bombardier dan digunakan untuk membuang pesawat terbang di pesawat single-aisle kecil di pasar AS.

Kantor pusat Boeing di Chicago mengaku akan meninjau kembali putusan ITC . Perang tarif untuk pesawat Seri C kemungkinan masih jauh dari kata selesai.

Kejadian tersebut setidaknya telah memicu penataan ulang pada industri pesawat, terlebih dengan masuknya Airbus, pesaing utama Boeing sebagai pembeli saham mayoritas pada proyek C-Series dan akan memindahkan fasilitas produksinya ke Alabama untuk mengatasi persoalan tarif.

Dalam suatu wawancara dengan CNBC, CEO Bombardier Alain Bellemare mengatakan ia baru saja bertemu dengan rekannya dari Airbus mengenai rencana integrasi kedua perusahaan. Namun hingga kini belum jelas kapan dan dari mana pesawat perusahaan Kanada itu akan diproduksi dan dikirim.

Maskapai penerbangan AS, Delta Airlines justru mengaku senang dengan keputusan ITC yang telah berupaya “menolak upaya antipersaingan Boeing untuk menolak maskapai Amerika serta perjalanan publik AS” melalui pemberian akses kepada pesawat Bombardier, saat Boeing tidak lagi menawarkan alternatif yang layak.

Pada 2016 lalu Delta Air Lines 2016 diketahui telah menyetujui pembelian 75 pesawat dari Bombardier. Perusahaan di Kanada menyalahkan kebijakan baru Presiden AS Donald Trump yang mulai sulit sejak meningkatnya perselisihan antara dua negara tetangga tersebut sejak pemilihan presiden AS.

Keputusan tersebut juga muncul saat para perunding dari AS, Kanada dan Meksiko berada di Montreal minggu ini untuk memperbarui Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara, yang oleh Trump diancam akan dicabut kecuali jika perundingan bisa berjalan dengan baik.

Pada perdagangan kemarin, Saham Bombardier melonjak 15 persen, sementara saham Boeing ditutup stagnan.

Richard Aboulafia, analis industri pesawat terbang Teal Group, mengatakan “Ini adalah akhir dari jalan kecuali jika Boeing mengajukan banding. Saya menganggap ini sebagai peluang bagus bagi Boeing untuk menempatkan kerusakan di belakang mereka … dan kerusakannya telah signifikan, seperti meninggalkan jejak kaki Airbus di industri besar AS,” ujarnya seperti dikutip dari laman Financial Times.

Apakah penolakan kasus Boeing oleh ITC berarti Bombardier tidak perlu mengendalikan bisnis Seri C ke Airbus, seperti yang terjadi tahun lalu?

Aboulafia mengatakan bahwa meskipun kasus tarif Boeing “mendorong Bombardier ke tepi” menuju langkah itu, “Jika Boeing tidak mendorong mereka mengatasi hal yang lain, pada akhirnya Seri C akan mengalami masa-masa sulit yang berkembang atau bahkan mungkin bertahan sebagai program jetliner yang dimiliki oleh sebagian kecil pemain,” tuturnya.

Sementara Menteri Bisnis Greg Clark menyebut keputusan tersebut sebagai “Berita bagus untuk angkatan kerja yang berdedikasi di Irlandia Utara dan rantai pasokan di Inggris untuk masa depan yang cerah,”

Perdana Menteri Inggris Theresa May mendorong sentimen di Twitter dan menyebut keputusan tersebut sebagai “kabar baik bagi industri Inggris.”