Meski berhasil mengalami penguatan pada akhir perdagangan Rabu (4/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih akan sulit untuk bertahan dalam tren penguatan. Kenaikan jangka pendek pada IHSG dinilai analis dapat terganjal aksi jual pelaku pasar, saat IHSG mencapai level batas atas (resistance).

Sepanjang perdagangan Rabu, IHSG sempat bergerak melemah merespons sentimen negatif dari terkoreksinya indeks bursa global serta harga komoditas nikel, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan timah. Meski begitu, aksi pembalikan arah ke atas (rebound) saham yang memiliki bobot cukup besar terhadap indeks berhasil mendorong posisi IHSG memasuki teritori positif dan bertahan hingga akhir.

IHSG berhasil ditutup menguat 99 poin atau 1,8 persen ke level 5.733 poin. Sektor konsumsi dan aneka industri yang masing-masing bertambah 77 poin atau 3,2 persen dan 26 poin atau 2,5 persen menjadi penopang kenaikan indeks. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 14,1 miliar di pasar reguler.

Analis Senior KGI Sekuritas Indonesia, Yuganur Wijanarko, mengungkapkan tren IHSG secara keseluruhan dapat dikatakan masih relatif turun. Karena itu, dia merekomendasikan investor untuk meakukan perdagangan jangka pendek (short term trading) dengan memperhitungkan jual rugi (cut loss point) ketat.

“Ini karena pasar masih sangat volatile dengan ketidakpastian global yang ada,” ujarnya. Dia memperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini akan bergerak pada kisaran batas bawah (support) 5.620-5.540-5.450-5.250 poin dan resistance 5.780-5.840-5.900-5.950 poin.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, mengungkapkan hampir saja harapan pelaku pasar pupus melihat IHSG kian tak berdaya dan terus melanjutkan pelemahan. Apalagi melihat IHSG terus anjlok di bawah level 5.600 poin.

Akhirnya IHSG mampu kembali bergerak positif hingga berakhirnya sesi perdagangan. Pelaku pasar mencoba memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk kembali masuk. Pergerakan rupiah yang mencoba menguat, diiringi masih adanya berita positif sejumlah emiten turut membuat IHSG berbalik positif.

Dia menambahkan, level support 5.550 poin hampir jebol sebelum akhirnya mendapat perlawanan dari meningkatnya volume beli. Dia berharap, IHSG hari ini dapat bertahan di atas support 5.645-5.715 untuk mencegah pelemahan lebih dalam.

Resistance diharapkan dapat menyentuh tipis di kisaran 5.730-5.762 poin. Namun demikian, tetap mewaspadai sentimen-sentimen yang dapat membuat IHSG kembali melemah,” paparnya.

Analis Senior Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, menilai pola IHSG saat ini masih akan terlihat bergerak dalam konsolidasi wajar. Kondisi ini terjadi di tengah pergolakan harga komoditas dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus memberikan warna terhadap pergerakan IHSG.

“Sedangkan arus modal masuk (capital inflow) masih terus diharapkan dapat mendongkrak kenaikan IHSG hingga beberapa waktu mendatang. Hari ini IHSG berpotensi menguat dengan kisaran perdagangan antara 5.527-5.888 poin,” jelas William.

 

Bursa Asia

Bursa saham Asia ditutup di teritori negatif pada perdagangan Rabu (4/7). Bursa saham Cina gagal melanjutkan penguatan yang terjadi pada perdagangan hari sebelumnya, seiring kegelisahan atas potensi perang dagang yang terus berlanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Cina, menjelang tenggat waktu penerapan perang tarif bea impor.

Emiten bidang elektronik terapan menjadi lokomotif pelemahan di Bursa Jepang setelah mencatat penurunan terburuk. Saham di sektor tersebut, seperti saham Tokyo Electronics turun 4,4 persen. Sementara saham utiliti dan pertambangan menguat, namun saham semikonduktor bergerak melemah.

Indeks Nikkei 225 turun 68,5 poin. Tekanan juga terjadi pada pasar saham Korea Selatan (Korsel), di mana Indeks Kospi turun 0,3 persen setelah gagal melanjutkan penguatan di sesi awal. Hal yang sama juga terjadi pada Indeks S&P/ASX200 di Bursa Australia yang melemah 0,4 persen.

Indeks Hang Seng memperpanjang pelemahan yang terjadi pada perdagangan hari sebelumnya. Tekanan pada Hang Seng terjadi oleh saham-saham energi dan real estat. Sementara Indeks Shanghai terus melanjutkan pelemahan dan Indeks Shenzhen turun 2 persen.

CTA Banner

Para pemodal khawatir atas potensi perang dagang yang intensif pada pekan ini karena wait and see batas waktu tarif impor yang ditetapkan AS kepada barang asal Cina senilai US$ 34 miliar. Penerapan tersebut berlaku pada Jumat (6/7) mendatang. Sebaliknya Cina juga mengumumkan rencana penerapan tarif impor terhadap barang-barang asal AS.

AS juga terlibat polemik dengan mitra dagang lain, di antaranya Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa. Negara-negara tersebut mulai menerapkan atau menjadwalkan untuk memulai pelaksanaan pajak impor bagi barang asal AS. Akibat hal tersebut, pasar saham Cina mengarah ke tren penurunan (bearish) karena telah melemah setidaknya 20 persen dari titik tertinggi dalam 52 pekan terakhir.

Chief Global Market Strategis Invesco, Kristina Hooper, seperti dikutip Reuters, menilai kondisi pasar saham Cina lebih merefleksikan perlambatan ekonomi dibanding ketakutan kepada perang dagang. Dia menambahkan, pasar saham Cina dapat tertekan lebih dalam jika polemik perang dagang makin memburuk.