Usia 40 seharusnya memang usia kematangan khususnya di bidang finansial.  Namun karena ada kesalahan mengelola pada usia 30 maka saat usia kepala empat, jauh dari kata ideal. Apa saja yang harus dilakukan untuk masalah keuangan pada usia 30?

Sebetulnya memasuki usia 40 tahun, dalam masalah keuangan tidak terlepas dari apa yang sudah dilakukan pada usia 20 dan 30 tahun. Karena apa yang sudah dilakukan sebelumnya itu menentukan apa yang dihadapi pada usia matang (40 tahun).

Kesalahan Finansial Sering Terjadi Saat Umur 30

“Namun seiring munculnya ‘kesadaran finansial’ saat ini banyak milenial yang sudah sudah punya ancang-ancang yang bagus. Tidak sedikit mereka yang baru menginjak usia 20 ini sudah memiliki pasif income, jika sudah begini, maka tidak dipungkiri ketika usia 30 bahkan 40 tahun kemungkinan kecil terjadi kekurangan dalam masalah keuangan,” ungkap Pandji Harsanto, pengamat keuangan.

Apalagi, jika telah memiliki tabungan dan dana darurat sebelum usia menginjak 40 tahun. Tabungan ini bisa terkumpul dengan mewajibkan menyisihkan dana pada awal bulan, bukan pada akhir bulan. Menabung pun harus punya tujuan, karena kalau hanya sekadar menabung, maka dana tersebut akan terpakai juga sebelum kejadian darurat tersebut datang.

Dengan memiliki tabungan untuk masa depan, maka sedikit orang akan membebani hidupnya dengan utang yang terlalu besar. Disinilah, gunanya financial planning, dengan perencanaan keuangan yang benar dan terarah membuat hidup kita lebih nyaman dalam jangka waktu panjang.

Jika semua telah terpenuhi, maka jangan lupa untuk melindungi diri dengan berasuransi kesehatan. Ini sangat penting, tanpa asuransi maka jika usia semakin bertambah, dan tubuh semakin rentan terhadap penyakit,  ketika itu terjadi dan tidak memiliki asuransi maka tabungan yang selama ini terkumpul bisa jadi akan terkuras.

Mengelola keuangan ini sangat penting, karena akan berpengaruh pada pola hidup di kemudian hari. Dengan menglola keuangan dengan baik, maka dapat menikmati hidup tanpa harus khawatir kebutuhan masa depan, seperti liburan, membeli properti, dana pendidikan anak, bahkan sudah terfikirkan untuk dana pensiun.

CTAforum wormtraders

Tips Kelola Keuangan Agar Tidak Menyesal Sebelum Usia 30

Usia 30-an, katanya usia yang paling menyenangkan. Pada usia kepala tiga, seseorang biasanya tengah memantapkan kariernya sehingga semakin dekat ke posisi puncak. Di usia ini pula, banyak orang yang memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga sendiri.

Menurut Perencana Keuangan, Pandji Harsanto, dalam tahapan kehidupan finansial, usia 30-an menjadi usia di mana seseorang tengah getol-getolnya mengakumulasi kekayaan karena tengah berada di puncak usia produktif. Mengenai keuangan, di usia ini pun pengeluaran finansial mulai lebih banyak dibandingkan di usia 20-an.

Karena mereka kini sudah memiliki hidup yang mandiri, mulai dari mencicil mobil hingga rumah, belum lagi bagi yang sudah berumah tangga maka akan ada pengeluaran untuk keluarga. Beberapa tips yang dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam finansial.

  1. Bagi yang memiliki kartu kredit, ini bisa menjadi penolong dan juga bisa membuat bencana. Jika sudah terlanjur memilikinya dan berutang, maka sebaiknya membayar penuh tagihan kartu kredit, jangan sekali-kali membayar dengan biaya minimal, karena bunganya mahal.
  2. Sebaiknya jangan setia pada satu pekerjaan, artinya tidak bertumpu pada satu penghasilan saja selama sekian tahun dan memberikan semua tenaga, energi, dan waktu untuk membangun karier di tempat tersebut. Namun ini tentunya bukan sebuah kesalahan. Yang menjadi kesalahan adalah tidak memanfaatkan usia untuk memperbanyak penghasilan dari tempat lain. Seperti bisnis sampingan yang dijalankan di luar jam kerja utama.
  3. Sebaiknya memiliki rencana keuangan dengan pasangan. Yang perlu diingat adalah ketika sudah memutuskan untuk menikah, maka tidak sedikit orang dalam rumah tangga, masalah keuangan menjadi utama dan fatal. Oleh karena itu, biasakan terbuka dengan pasangan dan membahas keuangan secara bersama-sama.
  4. Hindari boros belanja meski untuk keperluan anak. Banyak terjadi para orangtua muda yang mengalami euforia memiliki anak pertama. Akhirnya, para orangtua muda ini jor-joran menghabiskan penghasilannya untuk berbelanja kebutuhan anak. Mulai kebutuhan yang primer sampai kebutuhan yang sifatnya tersier dan rekreasional. Tidak jadi soal bila belanja kebutuhan anak dilakukan dengan tetap rasional. Tapi, kenyataannya banyak orangtua muda yang terseret arus membelikan berbagai barang-barang bermerek untuk anak mereka.
  5. Tidak membeli asuransi jiwa padahal murah dan sudah punya tanggungan, seperti istri dan anak. Memiliki tanggungan berarti sudah membutuhkan asuransi jiwa sebagai langkah manajemen risiko finansial. Membeli asuransi jiwa saat usia masih muda akan memungkinkan mendapatkan produk dengan premi lebih terjangkau dan uang pertanggungan besar. Jadi, jangan tunda membeli asuransi jiwa agar risiko finansial keluarga terkelola.