Harga minyak mentah dunia kembali menguat dan mencatat kenaikan signifikan (rally) pada perdagangan akhir pekan lalu (22/6). Kenaikan minyak mentah di pasar berjangka terjadi setelah pasar mendengar kabar bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) berkomitmen menjaga suplai di level moderat.

Para menteri OPEC pada Jumat lalu mengumumkan kesepakatan bahwa mereka akan meningkatkan pasokan minyak dari kelompok produsen, tetapi dengan jumlah yang tampaknya kurang dari yang diantisipasi pasar.

Negara-negara OPEC diketahui telah membatasi produksi untuk menyeimbangkan pasokan di pasar dan meningkatkan harga selama 18 bulan terakhir.

Harga minyak seperti dikutip marketwatch.com, mengalami rally pada perdagangan Jumat. Di mana harga minyak di bursa berjangka Amerika Serikat (AS) melonjak hampir 6 persen. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus di New York Mercantile Exchange naik US$ 3 per barel atau 4,6 persen ke level US$ 68,6 per barel. Harga penyelesaian WTI ini mencatat level tertinggi sejak November 2016.

Sementara, harga minyak mentah jenis Brent naik US$ 2,5 per barel atau sekitar 3,4 persen menjadi US$ 75,6 per barel. Berbalik arah menguat (rebound) dari penutupan Kamis (21/6) yang merupakan level terendah untuk patokan internasional sejak 17 April 2018 lalu. Brent mencatat kenaikan pekanan sekitar 2,9 persen.

Kesepakatan OPEC

Negara-negara anggota OPEC akhirnya berhasil membuat kesepakatan setelah menjalani satu pekan negosiasi panjang dan menegangkan di markas besarnya di Wina, Austria. Produsen minyak terbesar OPEC, Saudi Arabia, menghadapi tantangan untuk meyakinkan segelintir produsen yang enggan termasuk Iran, Irak, dan Venezuela untuk mendukung kenaikan produksi.

OPEC memang berhasil menghindari hasil yang menghancurkan dengan mengeluarkan kesepakatan di pertemuan yang ditutup akhir pekan lalu. Namun, pelaku pasar minyak agak kecewa karena OPEC menolak mengumumkan angka pasti kenaikan produksi.

“Dengan ancaman walkout dari Iran, yang terbaik memang mengeluarkan keputusan yang sengaja ambigu,” kata Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, Helima Croft, seperti dikutip CNBC.

Pada Jumat lalu, anggota OPEC setuju untuk mulai memompa lebih banyak minyak, meskipun perjanjian itu tidak akan mengakhiri kesepakatan 18 bulan untuk membatasi produksi. Sebaliknya, para produsen berusaha untuk memotong tidak lebih dari 1,2 juta barel per hari (bph), target yang mereka tetapkan pada November 2016.

Pernyataan resmi OPEC mengatakan seluruh anggotanya setuju untuk kembali ke angka 100 persen sesuai dengan kesepakatan 2016 yang dimulai pada 1 Juli. Organisasi itu mengatakan kepatuhan mencapai 152 persen pada Mei 2018, yang berarti OPEC memotong sekitar 600 ribu bph lebih dari yang disepakati.

Menjelang keputusan resmi, sumber mengatakan OPEC bertujuan untuk mengembalikan sekitar 1 juta bph ke pasar. Namun, sumber-sumber industri yang akrab dengan pembicaraan kartel minyak itu mengatakan bahwa peningkatan yang sebenarnya kemungkinan akan mencapai sekitar dua pertiga dari target Arab Saudi.

Hal itu karena beberapa anggota OPEC tidak akan mampu meningkatkan produksi minyak mentah. Analis mengatakan bahwa kenaikan pasokan lebih mungkin turun dalam kisaran antara 600 ribu-800 ribu bph.

Perjanjian OPEC dengan Rusia dan produsen lain untuk membatasi produksi minyak, telah membantu menahan pasokan global yang membebani harga selama bertahun-tahun. Analis pada Again Capital, John Kilduff, berpandangan terdapat banyak antisipasi pasar bahwa pasokan minyak yang berlimpah ke pasar tidak akan terjadi, setidaknya untuk saat ini.

Keputusan OPEC membingungkan pasar karena mereka memberikan target kenaikan produksi yang tidak detil sehingga sulit untuk memahami secara tepat berapa banyak produksi yang akan terjadi. Ekspektasi bahwa kenaikan akan gagal sebesar 1 juta bph menggambarkan dorongan bagi pasar.

“Kenaikan efektif dalam produksi dapat dengan mudah diserap oleh pasar,” kata Head of Oil Strategy BNP Paribas, Harry Tchilinguirian.