Sejumlah besar negara bagian di Amerika Serikat (AS) mulai mengajarkan konsep keuangan personal kepada para murid setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kartu Laporan Keuangan 2017 yang diterbitkan Pusat Literasi Finansial di Champlain College memberikan nilai A kepada lima negara bagian di AS. Masing-masing Alabama, Missouri, Tennessee, Utah dan Virginia. Nilai A diberikan, lantaran kelimanya dianggap telah mengupayakan pembelajaran tentang finansial personal kepada para calon mahasiswa.

Di lima negara bagian itu, pengelola SMA mensyaratkan pelajarnya untuk mengikuti paling tidak setengah tahun kursus pengelolaan keuangan personal. Tak tanggung-tanggung, kursus dicantumkan dalam daftar persyaratan kelulusan siswa.

Kursus pengelolaan keuangan personal mengajarkan pelbagai hal, seperti cara menggunakan kartu kredit secara bijak dan hati-hati, juga tentang manfaat menabung untuk hari tua. Selain itu, para mentor juga berbagi pengetahuan tentang menavigasi keputusan keuangan, momen yang agaknya tak bisa lepas dari perjalanan hidup seorang manusia dewasa.

Dalam kartu laporan yang sama, Pusat Literasi  Finansial di Champlain College memberikan masing-masing nilai B kepada 19 negara bagian yang menerapkan sistem pengambilan kursus keuangan personal bagi para siswa. Namun, waktu kursus di belasan negara itu tercatat kurang dari negara-negara penerima nilai A.

Sebanyak 12 negara bagian yang mendapat nilai C dan D turut mencantumkan topik keuangan personal dalam kurikulum yang berlandaskan standardisasi pada tingkat wilayah. Namun, mereka tak secara khusus mengatur tentang seberapa banyak materi yang mesti dibagikan ke distrik-distrik setempat.

Seperti sumber-sumber debat lainnya di AS, perlu atau tidaknya kelas literasi keuangan akhirnya menjadi diskusi hangat di Negeri Paman Sam. Beberapa pengamat menganggap kelas literasi keuangan kurang efektif sebagai bekal siswa saat terlepas dari bangku SMA. Lainnya menilai kursus keuangan bagi siswa SMU mestinya dipersenjatai pengajar yang secara berkala mengikuti pelatihan khusus dan, tak lupa, dilengkapi kurikulum yang tersusun melalui detail yang lebih baik.

Beberapa pertanyaan dan jawaban seputar perlu atau tidaknya kelas literasi keuangan bagi siswa SMA, di antaranya:

Bagaimana jika sekolah anak saya tak melempar instruksi agar siswa mengikuti kursus keuangan personal?

Sejumlah penasihat pendidikan finansial bagi anak-anak muda AS berpendapat, ada baiknya orang tua mendorong diri untuk berbicara dengan perwakilan pengelola sekolah. Diskusi nantinya termasuk pemilihan materi yang seimbang untuk anak seusia SMA.

Materi-materi pengelolaan keuangan semacam apa yang sesuai untuk siswa SMA?

Dewan Pendidikan Ekonomi merekomendasikan materi-materi yang sesuai untuk tiap tingkatan sekolah. Semakin tinggi tingkatan, tentu materi kian beragam.

Bukankah sudah menjadi hal yang ideal, kalau anak-anak mempelajari keuangan, langsung di rumah?

Idealnya memang di rumah. Tapi, banyak pula orang tua yang enggan berdiskusi soal keuangan bersama anak-anak mereka. Di AS, nyaris dua pertiga orang tua membiarkan anak-anak mencari tahu sendiri tentang pengelolaan keuangan. Kondisi itu terjasi, salah satunya karena mereka memiliki pengalaman buruk soal pengelolaan keuangan di masa lampau.

Di AS, ketiga pertanyaan itu sudah mulai terjawab. Di Indonesia, agaknya kita masih membutuhkan banyak pendorong.