Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan perbankan akan menaikkan suku bunga kredit mereka dalam waktu dekat. Hal ini sebagai respons atas kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR), hingga 100 basis poin pada Mei dan Juni lalu.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah, mengatakan meskipun kecenderungan perbankan bakal menaikkan suku bunga kredit untuk debiturnya, namun tidak dapat dipastikan kapan dan berapa jumlah kenaikannya. Menurut Halim hal itu bisa dilakukan oleh perbankan sewaktu-waktu tanpa berbarengan.

Dia menegaskan, yang perlu disadari, setiap bank berbeda-beda dalam melakukan penentuan suku bunga. Misal, untuk kredit, itu tergantung dari kontrak debitur dengan perbankan.

“Kalau itu jangka panjang tentu akan tidak cepat berubah. Tapi kalau kredit modal kerja itu bisa berubah sewaktu-waktu. Kalau dalam klausulnya menyatakan bank bisa mengubah suku bunga kapan saja,” ujar Halim.

Halim menambahkan, perbedaan waktu dan besaran persentase kenaikan suku bunga kredit tiap perbankan juga sangat tergantung bagaimana bank melihat elastisitas atau sensitivitas permintaan kredit serta jenis kredit. Apabila nasabah yang mereka miliki diperkirakan tidak lari dan masih mempunyai pangsa pasar besar, bank tersebut cenderung mempertahankan tingkat suku bunga kredit.

Berdasarkan data LPS, hingga Mei 2018, pertumbuhan kredit industri perbankan mencapai 10,26 persen dengan pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) sebesar 6,47 persen. “Kalau perbankan melihat pangsa pasarnya besar mereka tidak akan mengubah  suku bunganya. Kita akan lihat mungkin akan ada kenaikan dalam kurun waktu satu hingga enam bulan ini, tapi ini tergantung dari masing – masing bank,” papar dia.

CTA Banner

Terkait pertumbuhan kredit dan DPK, Halim merinci untuk BUKU I, pertumbuhan kredit mencapai 17,31 persen dengan DPK tumbuh 0,02 persen. BUKU II pertumbuhan kredit sebesar 9,82 persen dengan pertumbuhan DPK 4,36 persen. BUKU III pertumbuhan kredit 9,19 persen dengan pertumbuhan DPK 4,07 persen, dan BUKU VI pertumbuhan kredit 11,17 persen dengan pertumbuhan DPK 8,34 persen.

Dia menjelaskan, untuk BUKU IV, pada Mei lalu pertumbuhan DPK cukup besar. Jadi tergantung permintaan kreditnya seberapa kuat. Kalau masih cukup kuat perbankan akan menaikkan bunga kreditnya sedikit-sedikit. “Kalau tidak terlalu kuat mungkin mereka juga nggak berani, karena nanti permintaan kreditnya turun,” pungkas Halim.

Rekening Dengan Simpanan

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan, mengatakan pertumbuhan simpanan di perbankan dengan nominal di bawah Rp 2 miliar per Mei 2018 tumbuh cukup baik. Sementara untuk simpanan di atas Rp 2 miliar mengalami penurunan dibandingkan April 2018.

Fauzi menyebutkan, pada periode tersebut jumlah simpanan maupun jumlah rekening dengan nominal di bawah Rp 100 juta tumbuh 1,3 persen atau 3,24 juta rekening pada Mei 2018. Sedangkan secara nominal tumbuh 3,32 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Kemudian jumlah rekening antara Rp 100 juta-Rp 200 juta meningkat 1,43 persen dan untuk nominal tumbuh 1,41 persen. Selanjutnya, jumlah rekening antara Rp 200 juta-Rp 500 juta meningkat 1,4 persen dan nominalnya tumbuh 1,38 persen.

Untuk simpanan Rp 500 juta- Rp 1 miliar jumlah rekeningnya tumbuh 0,98 persen dan nominalnya naik 0,82 persen. Sementara untuk simpanan antara Rp 1 miliar – Rp 2 miliar jumlah rekeningnya tumbuh 0,57 persen dan nominal tumbuh 0,52 persen.

“Berdasarkan data LPS, simpanan yang dimiliki individual tidak banyak berubah terutama yang mencapai Rp 2 miliar. Ini menunjukkan kepercayaan terhadap sistem simpanan cukup baik,” kata Fauzi.

Sementara itu, untuk simpanan antara Rp 2 miliar – Rp 5 miliar, kata Fauzi, jumlah rekeningnya turun 0,23 persen dan untuk nominalnya juga turun 0,2 persen. Sedangkan untuk simpanan di atas Rp 5 miliar baik secara nominal maupun jumlah rekening juga turun dibandingkan April 2018 dengan masing-masing turun 1,18 persen dan 0,71 persen.

“Yang menurun adalah simpanan dari lembaga keuangan non bank dan perusahaan. Saya tidak terlalu berani menyimpulkan kenapa, tapi mungkin mereka sedang membiayai kegiatan ekonominya. Mudah-mudahan prediksi ini benar,” pungkas Fauzi.