Perbandingan itu memang tidak apple to apple, karena di Singapura pola pelayanan lebih bersifat transit (Transhipment) sementar Indonesia lebih mengarah kepada pola layanan sebagai pelabuhan bongkar atau destination port. Namun jika dilihat dari operasional di Pelabuhan Tanjung Priok, pertumbuhannya makin membesar dan cepat.

Kondisi Tanjung Priok saat ini, dibanding lima tahun lalu misalnya, cukup pesat kemajuannya. Trafik kontainer, baik dari kapasitas terpasang sekitar 6-7 juta TEUs, tumbuh dua kalinya yaitu 11-12 Juta TEUs. Akses darat ke dan dari pelabuhan bertambah. Penambahan peralatan dan penataan wilayah operasi mulai dari gate, container yard, dermaga serta CFS juga terlihat banyak ada ekspansi.

Meski begitu, menurut Pengamat Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Saut Gurning, ada indikasi pertumbuhan kapasitas itu masih kurang dari percepatan kebutuhan layanan akan kapal, barang termasuk aksesibilitas darat dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok yang sepertinya masih lebih besar dari kapasitas yang ada.

“Tata ruang di sekitar Priok nampaknya sudah jenuh. Fakta kemacetan, terbatasnya ruang simpan kontainer serta semakin terbatasnya ruang parkir truk juga terbatasnya ruang penambahan lokasi operasi Ini menjadi fakta eksis Priok saat ini,” paparnya.

Saat ini, IPC memang berencana menambah kantong parkir truk kontainer (buffer area) di kawasan Priok. Direktur Operasional dan Sistem Informasi IPC, Prasetyadi mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang membangun buffer area, yang mampu menampung sekitar 12 ribu truk container per hari.

“Saat ini sudah dalam tahap penyelesaian,” katanya.

Dibutuhkan Pelabuhan Transhipment 

Jika buffer area tersebut telah beroperasi, ada harapan mengurangi kepadatan di kawasan pelabuhan, meskipun sumber kemacetan sebenarnya juga bisa dari faktor luar. Tak efektifnya jalan tol di area pelabuhan karena tarifnya yang terlalu mahal, misalnya, sudah banyak dikeluhkan sopir truk dan pengusaha logistik.

Memang kalau melihat pola transhipment, Pelabuhan Tanjung Priok atau pelabuhan lainnya di Indonesia cenderung menjadi pengumpan atau feeder dari pelabuhan Singapura. Namun untuk kebutuhan domestik fungsi pelabuhan nasional cukup baik karena mampu menangani kargo domestik termasuk kargo internasional.

Agar semua kargo nasional terkonsolidasi di dalam negeri (via pelabuhan nasional semisal Tanjung Priok), dibutuhkan pelabuhan yang mampu melakukan fungsi transhipment. Sayangnya, hal itu cukup sulit karena tipikal pelabuhan nasional juga menjalankan fungsi layanan distribusi nasional secara domestik.

Satu atau beberapa pelabuhan nasional dapat didorong menjalankan fungsi transhipment, walau cukup berat ya. Dengan cara memperkuat platform konsolidasi. Yaitu memiliki panjang dan kedalaman dermaga disertai peralatan bongkar-muat yang cukup baik kuantitas maupun kinerja sehingga mampu menangani kapal-kapal berdimensi besar khususnya di atas 5000-7000 TEUs yang saat ini jamak di pelabuhan transhipment.

CTA Banner

Fungsi inilah yang sekarang juga dimainkan di Tanjung Priok, di mana sejak 2017, pelabuhan tersibuk di Indonesia ini telah melayani kapal-kapal ukuran raksasa, atau di atas 10.000 TEUs.

Akan tetapi, konsolidasi ini perlu pula didukung fungsi jasa perdagangan, inovasi industri nilai tambah, dukungan fiskal perdagangan internasional, dukungan dunia finansial dan perbankan, perizinan yang pro bisnis, keamanan yang handal, pola bisnis yang pro digitalisasi, serta memiliki kemampuan serta kompetensi SDM secara global.

Dibutuhkan SDM dan Dukungan Regulasi

Kembali pada Singapura, menurut Saut, jika menyaingi Singapura perlu banyak usaha (investasi, pengembangan, inovasi, serta pengembangan SDM), dukungan pemerintah (regulasi dan finansial), serta kolaborasi dengan pelaku pelayaran, freight-forwarding maupun operator logistik maritim yang lebih intens baik untuk orientasi kargo nasional dan internasional. Termasuk untuk Pelabuhan Tanjung Priok.

Seperti diketahui, PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) atau IPC terus melakukan perbaikan pelayanan dan jasa di Pelabuhan Tanjung Priok, baik dengan optimalisasi penggunaan sistem IT hingga pembangunan inftrastruktur. Dengan memiliki terminal baru maka menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia. Kapal-kapal besar bisa langsung singgah ke Jakarta tanpa harus bongkar muat di Singapura.

Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya menyatakan, saat ini Indonesia sudah berada di jalur yang tepat untuk menjadi poros maritim dunia. Keberadaan kapal-kapal terbesar ini menunjukkan bahwa IPC siap mengelola pelabuhan bongkar muat terbesar di Indonesia. “Didukung dengan IT System dan peralatan modern yang ada, kami bekerja sefektif dan seefisien mungkin untuk mendukung peningkatan ekspor,” jelasnya

Kapal-kapal ukuran raksasa tersebut menawarkan layanan angkutan barang yang lebih kompetitif dan waktu pengiriman yang lebih cepat sehingga berpotensi meningkatkan daya saing produk-produk ekspor Indonesia, khususnya di Amerika Serikat.

Direct call sangat efektif karena dapat menurunkan biaya logistik dan waktu tempuh, kapal berukuran raksasa itu akan mengangkut komoditas barang nonmigas asal Indonesia sebanyak 4.300 TEUs petikemas. Ini bertujuan untuk memangkas biaya logistik berkisar US$ 300-500 per petikemas, direct call juga dapat mengurangi waktu tempuh ke tempat tujuan. Ada pun komoditas barang nonmigas yang diekspor ke AS terdiri atas, produk-produk tekstil dan machinery metal.

“Artinya, pengiriman ini besar sekali. Dilakukan secara efisien melalui fasilitas direct call dan menurunkan biaya logistik. Setiap kontainer menghemat biaya US$ 300 dan ini akan memberikan daya saing produk-produk kita dengan negara lain. Dan, saat ini yang dikirim adalah produk alas kaki, garmen, elektronik, dan banyak lagi yang lain,” ujarnya.

Kapal CMA CGM Tage yang melayani rute langsung atau direct call akan bertolak dari Terminal Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju tujuan akhir Los Angeles, Amerika Serikat.  Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya menegaskan, Indonesia sudah berada di jalur yang tepat untuk menjadi poros maritim dunia.