Selain tingkat inflasi dan suku bunga, nilai tukar mata uang di satu negara biasanya menjadi ukuran level perekonomian maju tidaknya suatu negara.

Nilai mata uang memegang peranan penting dalam perdagangan antar negara.  Apalagi saat ini banyak negara yang terlibat dalam kegiatan ekonomi pasar bebas. Sementara itu bagi perusahaan investasi dan investor berbagai negara, adanya nilai tuar mata uang ini  mempengaruhi profit atau return portofolio investasi.

Nilai tukar mata uang satu negara dengan negara lainnya berbeda. Hal ini akan  juga akan mempengaruhi kegiatan perdagangan antara kedua negara. Bila suatu nilai tukar mata yang menguat  akan menyebabkan nilai ekspor negara menjadi lebih mahal, dan sebaliknya impor dari negara lain justru menjadi lebih murah. Dan sebaliknya.

Apa saja yang mempengaruhi nilai tukar suatu mata uang? Nah, berikut ini beberapa hal yang dapat menyebabkan pergerakan nilai tukar mata uang antar dua negara:

Adanya Tingkat Inflasi yang Berbeda Antara Dua Negara

Umumnya pada suatu negara yang memiliki tingkat inflasi  stabil rendah memiliki nilai tukar uang lebih kuat dibanding negara yang memiliki inflasi tinggi. Hal ini akibat daya beli mata uang tersebut akan menjadi lebih besar dibanding negara lain. Negara-negara yang memiliki inflasi rendah bisa disebutkan adalah Jerman, Jepang, Swiss, Amerika Serikat dan Kanada.

Umumnya negara yang memiliki inflasi lebih tinggi akan mengalami depresiasi dibandingkan negara yang menjadi mitra perdagangannya.

Perbedaan Suku Tingkat Bunga Antara Dua Negara

 

Kaitan antara suku bunga, inflasi dan nilai tukar sangat erat. Bank sentral suatu negara dapat mengubah tingkat suku bunga, yang berikutnya dapat mempengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uang.

Adanya suku bunga yang lebih tinggi akan mengakibatkan tingginya permintaan mata uang negara tersebut. Hal ini menguntungkan karena banyak investor baik domestik dan luar negeri untuk senang berinvestasi di negara tersebut, mengingat mereka tertarik pada return atau keuntungan yang lebih besar.

Tetapi kalau terjadi inflasi tinggi kembali, maka tidak sedikit investor akan keluar sambil membawa dananya. Hal ini akan membuat bank sentral akan menaikkan suku bunganya kembali. Kalau terjadi sebaliknya, bank sentral menurunkan suku bunga suatu negara, maka dipastikan justru akan membuat lemah nilai tukar mata uang negara tersebut.

Mengenal-6-Penyebab-Naik-Turunnya-Nilai-Tukar-Mata-Uang-2

Kondisi Kestabilan Ekonomi dan Politik

Bila suatu negara aman dalam segi politik maupun ekonomi,  tentunya akan menjadi lebih mudah bagi investor untuk menanam modal di negara tersebut. Negara dengan kondisi politik tidak sabil akan memiliki risiko tinggi untuk gagal dalam berinvestasi. Keadaan politik sudah pasti mempengaruhi kinerja ekonomi dan menyangkut para kepercayaan investor dan ikut mempengaruhi nilai tukar mata uang negara tersebut.

Neraca Anggaran

Suatu neraca perdagangan antara dua negara terdiri dari seluruh hasil pembayaran jual beli barang dan jasa. Disebut dengan neraca perdagangan defisit, kalau suatu negara lebih banyak membayar ke negara yang menjadi partner dagangnya dibanding dengan pembayaran dari hasil perolehan negara yang bermitra dagang.

Terkait dengan ini, negara tersebut membutuhkan lebih banyak mata uang dari negara partner dagang, dan hal ini akan mengakibatkan nilai tukar mata uang negara tersebut mejadi lemah. Namun sebaliknya, disebut  neraca perdagangan surplus kalau nilai mata uang negara tersebut menguat terhadap negara yang melakukan mitra dagang.

 

Ratio Harga Ekspor dan Harga Impor

Bila terjadi harga ekspor yang meningkat lebih cepat dibanding harga impor, maka nilai mata uang negara tersebut menjadi lebih kuat. Adanya permintaan baik barang dan jasa dari negara tersebut naik yang berarti adanya permintaan mata uang negara tersebut menjadi tinggi. Namun sebaliknya bila harga impor yang naik dibanding harga ekspor.

Hutang Publik (Public Debt)

Neraca anggaran domestik suatu negara digunakan juga untuk membiayai proyek-proyek untuk kepentingan publik dan pemerintahan. Jika anggaran defisit maka public debt membengkak. Public debt yang tinggi akan menyebabkan naiknya inflasi. Defisit anggaran bisa ditutup dengan menjual bond pemerintah atau mencetak uang. Keadaan bisa memburuk bila hutang yang besar menyebabkan negara tersebut default (gagal bayar) sehingga peringkat hutangnya turun. Public debt yang tinggi jelas akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.

Segera buka Akun binary options untuk mulai belajar praktik trading, ikuti prosedur Sign up forum hingga tuntas atau klik saja salah satu banner binary pada landing page.