Mengendapkan Prasangka atas Transformasi Digital

Tahun 1970-an menandai kebangkitan akan toleransi. Di Amerika Serikat (AS), masyarakat mulai belajar menghormati latar belakang, cara dan keyakinan hidup sesamanya, sesudah melewati dasawarsa-dasawarsa yang sarat gejolak rasial. Pada awal dasawarsa itu, penyanyi pop AS, Joe South, memetik gitar sembari melantun ringan, “Walk a mile in my shoes, before you abuse, criticize, and accuse.”

1970 adalah dekade yang–bisa dibilang–memberikan kesan mendalam bagi mereka yang dewasa pada masa itu. Impresif, dalam beberapa konteks di luar masalah rasial. Sepanjang satu dekade yang bermula 1970, dunia pelan-pelan mengenal komputerisasi. Mulai inovasi chip RAM, komputer meja (personal computer) hingga kalkulator yang bisa dibawa ke mana-mana.

Kini, inovasi komputerisasi semakin meluas. Tak hanya pada level business-to-business, melainkan juga government-to-government. Inovasi akhirnya memperkuat kerja sama serta relasi antarnegara.

Mengendapkan Prasangka atas Transformasi Digital

Pelbagai istilah terus menjejal seakan berebut tempat di jalanan nan ramai; menambah daftar panjang frasa dalam cakupan teknologi. Hingga akhirnya pada sepuluh tahun silam, saat preposisi “transformasi digital” mengemuka. Entah siapa yang pertama memperkenalkan istilah ini.

Baca juga: Manusia Indonesia dalam Lingkaran Transformasi Digital

Satu dekade lampau, “transformasi digital” baru berupa nama. Sekarang, lihatlah ke mana ia bertransformasi, sesuai namanya. Ia tak lagi dua kata. Transformasi digital telah—mesti tak resmi– ditahbiskan sebagai asal kemunculan mata uang virtual, mata uang digital bank sentral dan blockchain. Kemudian juga komputasi awan, adopsi cloud hingga all things intelligence.

Transformasi digital tak seperti langkah-langkah lengket seekor siput. Tak juga mirip derap kawanan zebra yang baru menemukan sumber air. “Tak cepat, juga tak lambat. Tetapi terus menyebar, seperti cendawan,” papar Direktur Pengendalian Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, R. Susanto.

https://forum.wormtraders.com/index.php?login/login

Transformasi digital, mengingat tuntutan dan kebutuhan serbacepat pada masa sekarang, “justru membantu manusia,” kata Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee dalam kesempatan yang terpisah dengan Susanto.

Microsoft memiliki platform komputasi awan yang disebut Microsoft Azure. Azure merupakan salah satu bukti transformasi digital terjadi di dunia. Tak hanya itu, produk ini digunakan lebih banyak orang, sejak diluncurkan pada 2010, atau delapan tahun lalu. Pendapatan Azure secara year-on-year tumbuh sebesar 98 persen, menurut data pendapatan perusahaan pada Kuartal IV/2017.

Mengendapkan Prasangka atas Transformasi Digital

Platform Azure seumpama sebuah rumah. Banyak ruang di dalamnya. Ruang-ruang ini mampu mempersingkat waktu kerja karyawan. Dan, jika boleh dikatakan, merapikan tugas-tugas. Azure, dan platform-platform digital lainnya sedunia, merupakan bukti perubahan itu nyata.

Tentu, ketika satu perubahan muncul, seribu atau bahkan sejuta perspektif segera tersiar. Sekarang tinggal beradaptasi, mengendapkan prasangka dan menoleransi. Lalu mencari cara bertahan di tengah-tengah perubahan. Walk a mile in my shoes. Walk a mile in my shoes.