Sore itu Maxensius Tri Sambodo mengenang masa-masa tinggal di Singapura. Ia berkisah, katanya, “Kantor atau lembaga yang terkoneksi dengan pemerintahan Malaysia itu selalu memasang semacam pengumuman di halaman surat kabar, ketika mereka menaikkan atau menurunkan harga.” Pengumuman disertai alasan kenaikan atau penurunannya.

“Cara itu berhasil. Masyarakat mau  mengerti. Mereka memahami kenapa [harga suatu produk atau jasa] naik atau turun,” papar Max, panggilan Maxensius. Max merupakan ekonom di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pengalamannya tersirap kala ia menanggapi pertanyaan wormtraders.com akan pergerakan harga minyak mentah global pada waktu belakangan. Desember silam, Rusia dan Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC sepakat memperpanjang periode pemangkasan kuota (output) minyak.

Harga minyak sebelumnya diperdagangkan terlalu rendah. Selepas perjanjian, harga minyak seolah-olah kehilangan tiang-tiang penyangga, melompat, liar.

Sebetulnya, papar Max, “pengendalian kuota oleh OPEC itu merupakan keputusan yang bagus.” Sebab, ujar Max yang selalu berbicara pelan dan teratur, “harga [minyak] yang terlalu rendah dapat mengganggu investasi.”

Sementara itu, cadangan minyak Amerika Serikat (AS) sudah bertahun-tahun tak menggembirakan. Menurun terus. Layaknya kondisi lain di AS yang akhirnya berdampak ke Indonesia, demikian juga tulisan nasib membawa negeri ini pada nyaris setiap ingar-bingar pasar minyak dunia.

“Kini,” papar Max kembali, “bagaimana kita [Indonesia] dapat menyangga [harga] minyak, tanpa Pertamina mesti harus berdarah-darah?” Tak ada jawaban langsung. Sebaliknya, ia meminta wormtraders.com mengecek kenaikan terbaru harga bahan bakar minyak di Indonesia.

Kenaikan harga minyak sedunia turut mengusik Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia. PT Pertamina (Persero) mesti menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Turbo. Besaran kenaikannya beragam di beberapa daerah, mulai Rp 150 hingga Rp 200.

Berdasarkan catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), hingga 15 Februari 2018 harga BBM jenis Pertamax telah mencapai harga Rp 8600 perliternya. Naik Rp200 dibandingkan harga pada Januari 2018. Begitupun untuk jenis Pertalite dan Pertamax Turbo yang masing-masing mengalami kenaikan Rp 100 dan Rp 250.

Meski kenaikannya cukup signifikan, namun harga BBM Pertamina terbilang masih relatif lebih rendah ketimbang produk BBM yang dijual di SPBU Shell dan Total. Contohnya, jenis BBM yang setara dengan Pertamax, dibanderol oleh Shell dengan harga Rp 9050 per liter. Sementara Total membanderolnya dengan harga Rp 8800.

Dalam sebuah  rapat kerja Pertamina dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu, Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik pernah mengungkapkan jika harga jual BBM-nya tergolong lebih rendah ketimbang BBM di Singapura dan Jepang.

Untuk harga BBM nonsubsidi seperti Pertalite dan Pertamax‎ diklaim lebih rendah 10 sampai 50 persen. “Kami termasuk yang paling murah dalam menjual harga BBM, ‎kalau kita lihat di Singapura dan Jepang itu perbedaan harga dengan yang kita jual antara 10-50 persen,” kata Elia.‎

Harga jual BBM Pertalite dan Pertamax tentu tidak akan menggerus kondisi finansial perusahaan mengingat kebijakan harga sepenuhnya berada di tangan Pertamina dan selalu fluktuatif mengikuti harga pasar.

Lain halnya dengan BBM subsidi dan penugasan, yang harganya diatur langsung oleh pemerintah. Sehingga, meski harga minyak dunia terus mengalami kenaikan, Pertamina terpaksa harus menanggung selisih harga jual terlebih dahulu. Selanjutnya, selisih tersebut akan diganti oleh pemerintah dalam bentuk dana subsidi.

Seperti diketahui, pada akhir tahun lalu pemerintah menetapkan harga premium penugasan di luar Jamali dan solar subsidi tetap atau tidak mengalami perubahan dari periode sebelumnya. Kedua harga BBM itu sebesar Rp6.450 dan Rp5.150 per liter. Harga tersebut berlaku sampai 31 Maret 2018.

https://forum.wormtraders.com/index.php?login/login

Namun kondisi harga minyak dunia yang terus naik secara langsung membuat kondisi keuangan Pertamina semakin tertekan. Sebab harga BBM penugasan yang ditetapkan masih jauh dari harga keekonomian.

Maka dari itu, Pertamina berharap akan ada perubahan harga pada April mendatang. “Kalau pun tidak dinaikkan ya kita tekan lagi di Opex (Operasional Expenditure),” kata Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman.

Keputusan pemerintah tidak menaikkan harga BBM khusus penugasan pada periode 1 Januari hingga 31 Maret 2018, telah berdasarkan hasil perkembangannya harga ICP dan harga indeks pasar pada Januari hingga December 2017 yang menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu besar antara asumsi ICP pada APBN-P 2017 sebesar US$ 48 per barel dan realisasi sebesar US$ 51,17 per barel.

“Penetapan tersebut juga mempertimbangkan dari berbagai aspek, antara lain kemampuan keuangan negara, situasi perekonomian, kemampuan daya beli masyarakat, ekonomi riil serta kondisi sosial masyarakat,” Kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Ego Syahrial.

Ego juga mengungkapkan jika pemerintah berencana mengevaluasi dan mencermati trend ICP. Apabila terdapat perbedaan yang cukup besar antara ICP dan asumsi APBN 2018, terbuka peluang dilakukannya penyesuaian kebijakan harga.

Jika dicermati lagi dengan sudut pandang yang lebih makro, tren meroketnya harga minyak dunia juga mendapatkan perhatian khusus dari Kementerian Keuangan. Pasalnya, hal ini akan berdampak pada besaran subsidi yang ada di APBN.

“Dampaknya akan ada peningkatan penerimaan negara dari pajak maupun bukan pajak yang berasal dari kegiatan usaha migas, tetapi juga ada potensi peningkatan dari subsidi yang ada dalam APBN,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara dalam jumpa pers kemarin.

Menurutnya, dalam kondisi saat ini pemerintah sangat mengandalkan pelaku usaha minyak di sektor hulu guna meningkatkan penerimaan negara. Hanya saja, di sisi lain, pemerintah juga harus memperhatikan kemampuan korporasi yang ditugasi memainkan peran stabilisasi harga BBM lantaran ingin menyediakan BBM dengan harga yang murah kepada masyarakat.

–Dengan kontribusi dari Anastasia Ika.