PT Merck Tbk (MERK) meraih persetujuan pemegang saham terkait rencana divestasi segmen usaha consumer health atau obat-obatan bebas (over the counter/OTC) kepada Procter & Gamble (P&G) senilai Rp 1,38 triliun. Transaksi tersebut diperkirakan rampung pada kuartal IV 2018.

Presiden Direktur Merck, Martin Feulner dalam rilis perseroan mengatakan induk usaha perseroan yakni Merck KgaA, sebagai pemegang saham pengendali final dari pemegang saham mayoritas Merck, telah berkomitmen untuk menjual segmen usaha consumer health secara global kepada P&G termasuk di Indonesia. Pascadivestasi lini bisnis tersebut, perseroan akan fokus pada pengembangan segmen usaha obat resep (biopharma) dan operasional lainnya.

Feulner mengatakan, divestasi bisnis consumer health merupakan dampak dari transaksi yang dilakukan oleh Merck KGaA dengan P&G dalam kesepakatan 19 April 2018. Pengalihan segmen usaha consumer health kepada P&G tidak termasuk piutang usaha, utang usaha, serta aset dan kewajiban lainnya dari segmen usaha tersebut.

“PT Merck Tbk tetap menjalankan segmen usaha consumer health seperti biasa hingga proses transaksi selesai pada kuartal IV 2018,” kata Feulner.

Karena divestasi dilakukan secara global termasuk Indonesia, maka Merck di Indonesia meminta izin pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Senin (25/6).

Direktur Merck, Bambang Nurcahyo, menjelaskan sampai hari transaksi penjualan selesai, perseroan masih diizinkan membukukan pendapatan dari segmen consumer health tersebut.

“Setelah itu, bisnis consumer health tidak lagi dikonsolidasikan atau berkontribusi terhadap total pendapatan perusahaan,” ujar Bambang.

Pada 2017, segmen bisnis consumer health menyumbang 48 persen dari total penjualan perusahaan atau sekitar Rp 556,8 miliar. Segmen ini tumbuh 6,9 persen dibandingkan tahun 2016.

Produk-produk unggulan dari segmen usaha ini antara lain Neurobion, Sangobion, dan Illiadin. Tahun lalu perseroan juga meluncurkan produk baru Sangobion Femine Menstrupain, produk herbal bagi wanita untuk mengurangi gejala nyeri menstruasi.

“Perseroan memastikan seluruh proses transaksi segmen usaha consumer health dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, untuk melindungi kepentingan para pemegang saham dan karyawan,” jelas Feulner.

 

Kinerja Perseroan

Merck membukukan penjualan Rp 1,2 triliun pada 2017 atau tumbuh 12 persen dibandingkan tahun 2016 sebesar Rp 1 triliun. Sepanjang 2017, Merck mencatat laba bruto Rp 588 miliar, meningkat 8 persen dibandingkan tahun 2016. Sedangkan total aset perseroan mencapai Rp 847 miliar, meningkat 14 persen dari Rp 744 miliar pada 2016.

Pertumbuhan penjualan didorong oleh peningkatan pasar ekspor dengan kontribusi 47 persen dari total penjualan. Sisanya, sebesar 53 persen merupakan kontribusi dari pasar domestik. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan tahun 2016, di mana kontribusi penjualan ekspor mencapai 37 persen dan lokal 63 persen.

Feulner mengatakan, peningkatan penjualan ekspor ini menunjukkan peluang bagi perusahaan untuk memperluas pasarnya di luar Asia Tenggara. Perseroan berencana membuka pasar ekspor baru di Timur Tengah dan Afrika pada 2018.

Segmen usaha obat resep berkontribusi 43 persen dari total penjualan Merck atau sekitar Rp 498,8 miliar. Nilai ini tumbuh 14 persen dibandingkan dengan 2016.

“Penjualan segmen usaha obat resep kami bisa tumbuh 14 persen di saat pasar hanya tumbuh 5,3 persen,” kata Feulner.

Bambang mengakui, divestasi segmen consumer health mungkin akan memengaruhi kinerja perusahaan pada 2019. Pasalnya, salah satu kontributor bisnis yang terbesar sudah tidak lagi dimiliki perusahaan. Namun, secara bertahap, perseroan berniat mengembangkan lebih jauh segmen biopharma.

Mengenai ekspansi di segmen biopharma, Direktur Divisi Biopharma, Evie Yulin, mengungkapkan bahwa perseroan berniat menyediakan obat untuk kanker kulit, yakni Bavencio dan obat untuk multiple sclerosis yakni Mavenclad. Kedua produk tersebut sebenarnya sudah diluncurkan di negara lain.

Namun, untuk Indonesia belum bisa diluncurkan karena harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemerintah. “Diperkirakan 3-5 tahun mendatang obat tersebut baru akan meluncur di Indonesia,” ujar Evie.

 

Ikut Program KJN

Untuk mendorong pertumbuhan segmen bisnis obat resep ini, Merck melanjutkan pendekatan kerja sama pemerintah dengan swasta (Public Private Partnership) guna meningkatkan kesadaran masyarakat, pasien dan praktisi kesehatan terhadap berbagai penyakit. Upaya proaktif ini berhasil meningkatkan penjualan secara signifikan untuk produk variasi obat diabetes dan fertilitas.

“Keikutsertaan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menyumbang 21 persen dari total penjualan biopharma, meningkat dari 20 persen pada 2016 karena penetrasi produk kardiovaskular dan tiroid yang lebih baik,” kata Feulner.

Sepanjang tahun lalu, divisi pabrik Merck memproduksi 741 juta tablet dan kapsul, melampaui target perseroan sebesar 735 juta tablet. Sebagian besar produksi 2017 dilakukan pada akhir 2016 karena perseroan merenovasi pabrik pada Januari-Februari 2017.

Untuk renovasi pabrik dan pemasangan mesin, perseroan menginvestasikan belanja modal Rp 95 miliar. Pabrik yang baru direnovasi ini beroperasi pada kuartal I 2018 dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi tablet dan kapsul hingga 55 persen pada tahun ini.