Harga minyak mentah dunia pada perdagangan akhir pekan lalu menguat, meski secara pekanan harga minyak masih tertekan. Harga minyak mentah menanjak setelah terjadi aksi mogok di Norwegia dan Irak yang menekan suplai global.

Kenaikan di perdagangan akhir pekan belum mampu menutup pelemahan selama sepekan. Di pasar berjangka, harga minyak mencetak penurunan pekanan beruntun selama dua pekan. Hal ini terjadi setelah ekspor minyak Libya dibuka kembali serta kemungkinan Iran masih dapat mengekspor minyak meski mendapat sanksi dari Amerika Serikat (AS).

Harga patokan minyak AS jenis West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 68 sen ke level US$ 71 per barel. Kontrak harga turun 4 persen dalam lima hari terakhir, menandai pelemahan pekanan kedua secara beruntun.

Sementara patokan harga minyak internasional jenis Brent menguat US$ 1,11 ke posisi US$ 75,56 per barel, mengarah ke koreksi pekanan sebesar 2 persen. Tetapi pasar komoditas minyak mendapat dukungan pada perdagangan Jumat dari kekhawatiran terhadap suplai.

Ratusan pekerja tambang minyak dan gas lepas pantai Norwegia menggelar aksi mogok setelah menolak usulan kesepakatan upah. Hal itu berdampak menutup lapangan migas Shell, Knarr, yang memproduksi minyak sebesar 23.900 barel per hari (bph).

Di Irak, 100 pekerja mogok menuntut lapangan kerja dan pelayanan yang lebih baik dari pemerintah Irak. Para pekerja menutup akses pelabuhan komoditas Umm Qasr yang dekat dengan wilayah Selatan kota Basra.

“Penurunan terus menerus pasokan minyak dari Venezuela dan aksi mogok yang memanas di Norwegia dan Irak mendorong sentimen tren kenaikan (bullish),” kata Senior Analis Bidang Energi pada Interfax Energy yang berbasis di London, Abhishek Kumar.

Harga minyak bursa berjangka mendekati level US$ 80 per barel di Juni dan Juli karena faktor penurunan pasokan dari Libya dan Venezuela. Selain itu akibat faktor ketakutan, AS menekan semua pembeli minyak Iran agar memangkas impor hingga nol mulai November.

CTA Banner

Tetapi harga melemah belakangan ini karena anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), Libya, membuka kembali pelabuhan ekspor minyaknya di kawasan timur. Sementara, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan penghentian bantuan terhadap sejumlah negara pembeli minyak Iran.

Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan, kesepakatan Rusia mengekspor barang ke Iran dengan barter minyak masih mungkin. Rusia mempelajari semua aspek legal terkait kemungkinan kesepakatan tersebut.

Harga Emas

Sementara, harga komoditas emas pada perdagangan akhir pekan lalu tertahan dalam kisaran perdagangan yang ketat. Ini karena US$ memperpanjang reli dari sesi sebelumnya akibat data inflasi AS yang kuat dan kekhawatiran perang dagang mendorong permintaan US$.

Harga emas di pasar spot turun 0,1 persen menjadi US$ 1.245,54 per tray ounce pada pukul 06.52 GMT, seperti dilaporkan Reuters. Untuk sepekan kemarin, harga logam kuning itu menyusut 0,7 persen. Sementara harga emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Agustus tergelincir 0,1 persen menjadi US$ 1.245,50 per tray ounce.

“Dolar AS menjadi penggerak utama harga emas. Sentimen pasar sebagian besar positif terhadap greenback karena investor beralih dari aset safe haven meski risiko geopolitik meningkat,” kata Analis Komoditas di Phillip Futures, Singapura, Benjamin Lu.

US$ menguat di dekat level tertinggi sepuluh hari terhadap keranjang enam mata uang utama, pada Jumat. Penguatan didukung imbal hasil surat utang AS, US Treasury, yang naik tipis karena ekspektasi tingkat inflasi AS akan meningkat.

Data harga konsumen AS yang dirilis Kamis, menunjukkan peningkatan tekanan inflasi dapat menjaga Bank Sentra AS, The Federal Reserve (The Fed), di jalur kenaikan suku bunga secara bertahap. Penguatan US$ dan suku bunga AS yang lebih tinggi mengurangi permintaan emas, karena logam mulia itu menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.