Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menerbitkan surat utang negara (SBN) ritel seri SBR003 beberapa waktu lalu. Surat utang ritel ini untuk pertama kalinya dijual secara online dan melibatkan perusahaan fintech yakni PT Investree Radhika Jaya.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman mengatakan, SBR003 ini sebagai instrumen investasi yang bisa dimanfaatkan oleh Generasi Milenial. “Ini bagian upaya kami untuk mendalami pasar, sekaligus untuk financial inclusion. Yang kita sasar adalah generasi muda, bukan hanya 40 tahun ke bawah tapi juga Generasi Milenial,” jelas Lucky.

Penerbitan SBR003 juga melibatkan sembilan mitra ditribusi yang terdiri dari bank umum seperti Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI, Bank BCA, dan Bank Permata. Lalu perusahaan efek seperti Trimegah Securities, Bareksa, dan Star Mercato Capitale.

Lalu bagaimana cara membelinya? Luky mengatakan, caranya cukup melalui website dan aplikasi yang nantinya akan diluncurkan di hari yang sama, sehingga tidak perlu lagi mendatangi agen penjualan. “Caranya karena online, maka kita bisa lewat aplikasi di smartphone atau internet,” jelasnya.

Untuk bisa membeli ada syarat yang harus dipenuhi calon investor, yaitu melakukan registrasi melalui website dengan mengisi data seperti identitas diri. Setelah itu, harus membuat rekening surat berharga dan rekening dana.

Pembuatannya akan dibantu oleh mitra distribusi (midis). Selanjutnya, calon investor akan memiliki single investor identification (SID) dan mendapatkan kode billing yang kemudian harus dibayarkan ke bank persepsi. Pembayaran bisa dengan online maupun offline.

Selesai dengan serangkaian syarat tersebut, calon investor akan memiliki single investor identification (SID) dan mendapatkan kode billing yang kemudian harus dibayarkan ke bank persepsi. Pembayaran bisa dengan online maupun offline.

Pembayaran dimaksud sesuai jumlah pesanan yang diajukan. Setelah membayar, akan mendapatkan nomor transaksi penerimaan negara (NTPN) yang menandakan bahwa pembelian SBR003 sudah lengkap.

“Kalau registrarsi sudah bisa sekarang untuk dapatkan SID. Nanti diorder misalnya Rp 1 juta, Rp 10 juta, Rp 5 juta. Cara bayarnya, nanti dapat billing quote bisa bayar ke bank, e-banking, atau ATM. Seperti bayar pajak, uang sudah masuk dikasih buktinya, ya sudah selesai. Itu very simple,” jelas dia.

Pelaksanaan penjualan SBN ritel ini dilakukan secara online (e-SBN) dan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31/PMK.08/2018 tentang Penjualan Surat Utang Negara Ritel di Pasar Perdana Domestik. Aturan ini juga merevisi dari PMK Nomor 42 Tahun 2014 tentang Penjualan Obligasi Negara kepada investor ritel di pasar perdana.

Luky mengatakan, SBR003 diterbitkan dengan minimum pemesanan Rp 1.000.000 dan maksimum pemesanan Rp 3 miliar. Sedangkan yield atau imbal hasil dari surat utang ini sekitar 6,8 persen berpacuan pada BI 7 Days Repo Reverse Rate plus spread.

Sri Mulyani Jawab Rumor SBN Sepi Peminat

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati angkat bicara tentang lelang surat utang negara yang sepi peminat. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpastian global.

“Situasi hari ini memang sesuatu yang harus terus kita monitor secara sangat cermat perubahan yang terjadi hampir setiap hari dengan sinyal-sinyal yang dilakukan terutama dari negara maju,”  jelasnya.

Ketidakpastian itu seperti kebijakan suku bunga The Fed yang akan naik. Ketidakpastian ini juga bukan hanya dirasakan oleh Indonesia sendiri, melainkan negara lain pun sama.

“Itu semuanya menimbulkan suatu sentimen yang kemudian bercampur dengan yang sekarang dihadapi di seluruh negara. Jadi kita melihat bahwa pada April dan Mei ini adalah proses di mana banyak perusahaan membagikan dividennya sehingga ini memberikan demand terhadap berbagai sumber dana dalam rangka bayar dividen,” ungkap dia.

CTA Banner

Surat utang yang dilelang pemerintah ini sebenarnya untuk memenuhi pos pembiayaan yang sudah ditetapkan dalam APBN. Sri Mulyani mengatakan akan terus menjaga dan sudah mendapatkan pembiayaan yang melebihi kebutuhan sampai semester I-2018.

“Karena kita sudah melakukan front loading waktu itu cukup banyak. Kita ambil dari global bond yang kita terbitkan sebelum 2018, sekitar November lalu. untuk penerbitan global bond, saat ini sudah terpenuhi di semester I, jauh melebihi yang dibutuhkan,” ungkapnya.

Meski demikian, ia tetap meneliti arah permintaan para investor guna memenuhi pembiayaan. Seperti saat ini, pemerintah telah mendapatkan pembiayaan program yang berasal dari institusi multilateral dan private placement sebagai salah satu alternatif apabila market dalam situasi yang tidak rasional.