Harga minyak mentah tidak mampu melanjutkan penguatan di pasar berjangka dunia. Harga minyak kembali jatuh pada perdagangan Senin (25/6), karena investor bersiap mengantisipasi tambahan produksi 1 juta barel per hari (bph) yang diprediksi memukul pasar.

Tambahan produksi diyakini akan masuk ke pasar, setelah Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) setuju meningkatkan produksi. Di sisi lain, tekanan pada harga minyak juga terjadi karena pasar ekuitas Amerika Serikat (AS) tergelincir akibat kekhawatiran perang dagang Washington dan Beijing.

Harga minyak mentah jenis Brent, yang merupakan minyak patokan lebih dari separuh negara di dunia, pada perdagangan Senin turun US$ 1,8 per barel ke level US$ 73,74 per barel.

Penurunan terjadi setelah keluarnya pernyataan Arab Saudi pekan ini, yang berjanji akan meningkatkan produksi mereka. Meski, pernyataan Arab Saudi tidak selaras dengan pernyataan ambigu OPEC dan negara lain yang bertentangan.

Di sisi lain, harga minyak patokan AS, jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup melemah tipis hanya US$ 25 sen ke level US$ 68,33 per barel. Penurunan WTI terjadi akibat adanya sedikit penurunan pada aktivitas penambangan minyak AS dan penurunan produksi minyak Kanada.

Goldman Sachs Group Inc., mengatakan gangguan pabrik minyak Syncrude Canada diperkirakan dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 360 ribu bph sepanjang Juli. Ini dapat menyebabkan penarikan tambahan pada anak perusahaannya di AS.

Ditambahkan bahwa hal itu akan memperburuk defisit global saat ini, membuat peningkatan produksi OPEC semakin dibutuhkan. “Selisih perdagangan antara pemasar minyak Eropa dan AS turun hampir 20 persen pada hari Senin dan hampir separuhnya dalam waktu satu pekan,” ujar Goldman.

 

Sempat Melonjak

Harga minyak mentah awalnya melonjak setelah kesepakatan OPEC diumumkan akhir pekan lalu, karena pasar tidak melihat peningkatan pasokan sebanyak yang diperkirakan. OPEC dan mitra non-OPEC, termasuk Rusia, memotong produksi sekitar 1,8 juta bph sejak awal 2017 untuk mengencangkan pasar dan menaikkan harga.

Sebagian besar karena gangguan yang terjadi di sejumlah kawasan seperti Venezuela dan Angola, membuat produksi kartel tersebut berada di bawah target pemangkasan. Hal itu yang oleh OPEC dikatakan akan dibalik oleh peningkatan pasokan terutama dari pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi.

Meski analis memperingatkan ada sedikit kapasitas ruang untuk peningkatan produksi dalam skala besar. “Konferensi pers OPEC, Sabtu, memberikan kejelasan lebih pada keputusan untuk meningkatkan produksi, dengan panduan bagi peningkatan secara penuh 1 juta bph pada paruh kedua 2018,” kata Goldman.

“Ini adalah peningkatan lebih besar dari yang dipresentasikan Jumat, meskipun tujuannya tetap untuk menstabilkan persediaan, bukan menghasilkan surplus,” tambah Goldman.

Analis komoditas di Bank Emirates NBD, Dubai, Edward Bell, mengatakan setiap peningkatan produksi akan ditanggung paling signifikan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. “Memperhitungkan kesepakatan Wina ke pasar, saya memperkirakan harga minyak mentah jenis Brent akan berada dalam kisaran antara US$ 65-70 per barel untuk sisa tahun ini,” jelas Bell.

Di AS, perusahaan energi negara itu pekan lalu, memangkas satu rig pengeboran. Ini merupakan pengurangan pertama dalam 12 pekan, sehingga jumlah totalnya menjadi 862 unit.

Hal itu menempatkan rig berada di jalur untuk kenaikan bulanan terkecil sejak berkurang dua unit pada Maret lalu, dengan hanya tiga rig yang ditambahkan sepanjang Juni.