Paladium, Warga "Kelas Dua" yang Kian Mengilap

Paladium–dan platinum–merupakan “warga kelas dua.” Pengelompokan meretas ketika kita membandingkan keduanya dengan emas dan tembaga.

Paladium dan platinum berpacu satu sama lain guna mengamankan dominasi harga. Kedua logam itu banyak digunakan dalam katalis mobil. Baik paladium maupun platinum bertugas melakukan pekerjaan kotor tetapi mulia: menyaring emisi karbon monoksida menjadi hal lain–misalnya uap air–yang lebih ramah lingkungan.

Sementara pasar katalis sendiri, saat ini, tampak masif. Percepatan pertumbuhannya tampak dari penguatan penjualan kendaraan di kawasan Asia di tengah-tengah penambahan kelas menengah. Daya beli masyarakat kian lentur, paladium dan platinum pun bersolek.

Selain itu sejak awal 2018, pamor “kakak-beradik” itu cukup bagus. Salah satu sebabnya, “sektor energi listrik membutuhkan pasokan paladium yang cukup besar,” papar Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka.

Pada awal pekan silam, karga spot platinum sebesar US$ 1.009 per ounce. Sementara paladium berada pada level US$ 1.048,25 per ounce. Ibarat roda berputar, paladium berhasil mengungguli platinum, paling tidak sejak 2001. Apa yang membuat paladium berhasil melampaui platinum?

Pangsa pasar mobil diesel terus menurun. Pelemahan telah melepaskan beban harga platinum, yang akhirnya turut menopang harga paladium. Selain itu, pasokan paladium cenderung defisit, yang akhirnya memperkuat harga komoditas logam itu. Namun, benarkah fundamentalnya semengilap namanya, paladium?

Baca juga: Tahun Anjing Tanah Bikin Platinum Sumringah

Fundamental bagi sejumlah pemain utama katalisator masih terlihat. Terlebih di tengah-tengah tekanan akan industri yang lebih ramah lingkungan serta pengetatan standar emisi. Beijing, misalnya, terancam pencemaran udara senilai US$ 3 miliar.

Untuk jangka pendek, paladium masih cukup sehat. Tetapi untuk jangka panjang, agaknya paladium mesti mewaspadai keberadaan peralihan strategi para produsen mobil. Dan, yang tak kalah penting, kemunculan mobil-mobil listrik.

Sementara itu, harga emas telah melemah 1,4 persen sepanjang pekan ini di pasar spot. Angkanya menandai pelemahan terbesar mingguan sejak awal Desember.

Sentimen negatif yang melemahkan harga emas adalah pemulihan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan terus melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunganya pada tahun ini.

–Dengan kontribusi dari Dea Chadiza.