PT Danareksa Sekuritas mengungkapkan saat ini sudah ada tiga perusahaan yang masuk pipeline (daftar) untuk penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang memilih mengundurkan rencana mereka ke kuartal IV-2018. Ketiga perusahaan itu memilih menunda melantai di bursa saham, karena mempertimbangkan kondisi pasar yang belum kondusif.

PT Jaya Bersama Indo, induk usaha dari restoran The Duck King, menunda untuk melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena kondisi pasar dinilai mengalami penurunan daya serap. “Karena market kurang kondusif, maka Jaya Bersama Indonesia menunda,” ujar Managing Director Danareksa Sekuritas, Boumediene Sihombing.

Pasar Kurang Kondusif, Tiga Perusahaan Tunda IPO

Boumediene menuturkan, Jaya Bersama Indo awalnya menargetkan pencatatan saham di bursa pada 8 Juni 2018. Sementara proses penawaran awal dan pembentukan harga (book building) sudah berlangsung pada 16-23 Mei 2018.

Boumediene, mengungkapkan, ada tiga perusahaan kliennya yang memutuskan untuk menunda IPO di semester I tahun ini. Selain The Duck King ada juga PT Wika Realty dan PT Panca Budi Idaman. “Ada tiga perusahaan, Wika Realty, Panca Budi, dan The Duck King yang kita tunda IPO dari semester I menjadi semester II paling lambat kuartal IV,” terang dia.

Dia juga mengaku belum bisa memastikan kapan ketiga perusahaan itu akan melakukan IPO, karena bergantung dan menunggu kondisi pasar saham lebih kondusif. Menurutnya, pihaknya terus mencermati perkembangan pasar secara intens agar nantinya tak kembali terjadi risiko penundaan pelaksanaan aksi korporasi ini.

“Kami belum bicara lebih lanjut tapi terus memonitor perkembangan pasar. Tapi secara umum rencananya semester II,” pungkasnya.

Jaya Bersama Indo rencananya akan melepas sebanyak-banyaknya 403,8 juta saham atau sebesar 30,4 persen dari modal saham yang ditempatkan. Saham itu ditawarkan dalam kisaran harga Rp 1.550-Rp 1.950 per saham. Jadi total dana yang akan diperoleh diperkirakan sekitar Rp 625,9 hingga Rp 787,4 miliar.

Rencananya ketiga perusahaan tersebut akan kembali mengajukan IPO dengan menggunakan laporan keuangan Juni 2018. Langkah itu dipilih agar proses pencatatan (listing) memiliki jeda yang cukup panjang hingga akhir 2018.

Danareksa sendiri saat ini telah mendapatkan dua klien perusahaan anak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang hendak melakukan IPO di semester II tahun ini. Dengan tambahan dua perusahaan, total emiten baru yang akan dibawa Danareksa di semester II tahun ini menjadi lima emiten.

Boumedian juga menjelaskan untuk semester II, Danareksa akan mengawal penerbitan obligasi senilai Rp 3 triliun. Instrumen utang tersebut akan diterbitkan oleh dua perusahaan menggunakan laporan keuangan akhir Juni 2018. Namun, dia menolak memberikan rincian perusahaan mana yang akan menerbitkan instrumen utang tersebut.

Kedatangan 32 Emiten

Para investor siap-siap memiliki pilihan portofolio saham baru, karena BEI bakal kedatangan 32 calon emiten baru. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, IGD N. Yetna Setia, mengatakan otoritas pasar modal telah mengantongi 32 perusahaan dalam pipeline yang akan melakukan IPO. “Untuk pipeline IPO sebanyak 32 calon perusahaan tercatat,” katanya.

Jumlah tersebut sudah melebihi target IPO bursa sampai akhir tahun sebanyak 35 emiten. Sebab, emiten baru yang sudah melantai di bursa sejak awal tahun hingga akhir Juni 2018 telah mencapai 21 perusahaan.

Penambahan 32 calon emiten baru menambah jumlah emiten yang akan IPO di bursa menjadi 53 emiten, jika seluruhnya resmi tercatat di lantai bursa. Sepanjang Juli 2018 hingga Rabu (9/7) sendiri, sudah ada enam emiten yang resmi tercatat di BEI. Keenam emiten itu adalah:

  1. ‎PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang menjadi emiten ke-22
  2. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) yang menjadi emitn ke-23
  3. PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR) yang merupakan emiten ke-24
  4. PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) yang merupakan emiten ke-25
  5. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) yang menjadi emiten ke-26, dan
  6. PT Pollux Properti Indonesia Tbk (POLL) yang menjadi emiten ke-27

CTA Banner

Selanjutnya masih ada tiga perusahaan lagi yang berencana mencatatkan saham merek di bursa. Ketiganya adalah, PT Mahkota Group, PT Sinergi Megah Internusa, dan PT NFC Indonesia. Ketiganya dijadwalkan tercatat di BEI pada 12 Juli 2018.