Pasar saham Amerika Serikat (AS) tak terlalu terpengaruh pengentian sementara operasional kantor layanan publik (shutdown). Treasury bahkan mencapai tingkat tertinggi selama lebih dari tiga tahun terakhir.

Semua indeks ekuitas utama menguat, dipimpin oleh kekuatan produsen pakaian jadi dan barang tahan lama. Dolar menguat meski masih mencatat kerugian dalam enam pekan berturut-turut. Untuk pertama kalinya sejak 2014, imbal hasil (yield) obligasi AS menguat hingga di atas 2,65%.

“Langkah outsized (dalam Treasuries) terus menyoroti ekspektasi pasar akan penghapusan kebijakan tambahan dari The Fed–dan bank sentral lainnya di seluruh dunia–ditambah dengan perkiraan pertumbuhan dan inflasi di atas tren,” ungkap Lindsey Piegza, kepala ekonom di Stifel Nicolaus & Co seperti disitir dari Bloomberg.

“Meskipun sulit untuk menekan gandum, kami tetap ragu untuk minum Kool-Aid dulu. Keyakinan hanya akan mendukung pasar begitu lama tanpa adanya peningkatan yang berarti dalam pertumbuhan upah dan inflasi top-line,” sambungnya.

Burns McKinney, kepala investasi Allianz Global Investors yang berbasis di Dallas, AS, mengatakan para pedagang tampaknya tidak menganggap penghentian operasional AS sebagai sentimen negatif.

“Pada tahun lalu, mereka telah mengabaikan semua jenis berita buruk. Jika anda bisa menyingkirkan gejolak geopolitik dengan Korea Utara, jika anda bisa menyingkirkan Brexit, maka shutdown semestinya tidak berpengaruh besar. Kami sudah pernah melihat ini sebelumnya,” ungkapnya.

Yang Harus Diwaspadai pada Pekan Depan

  1. Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin dunia lainnya akan bertemu di Davos, Swiss, untuk mengikuti acara tahunan World Economic Forum.
  2. Kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) pada pertemuan 23 Januari nanti dan dan keputusan tingkat suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pada 25 Januari.
  3. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC dan mitranya, termasuk Rusia, akan bertemu di Oman untuk meninjau kembali strategi kebijakan mereka.