Pergerakan Dolar dan Euro

Pekan lalu, pasar riuh akibat berita pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap hampir semua mata uang. Pelemahan bahkan menyentuh level terendah dalam tiga tahun terakhir. Euro melonjak pada akhir pekan. Akankah pergerakan keduanya berlanjut?

Banyak data dan pernyataan yang mendorong pelemahan dolar pada pekan lalu. Terutama dari data fiskal dan perdagangan AS seperti data pengangguran, data perumahan, neraca perdagangan yang negatif. Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV/2017 lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Penurunan PDB membuat dolar kian terpuruk. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin sempat menyatakan, pelemahan dolar baik untuk kinerja ekspor mereka, seakan-akan mengindikasikan negara tersebut mendukung arah pelemahan dolar. Meski akhirnya pernyataan ini sempat dijelaskan ulang Presiden AS Donald Trump atas dirinya yang mendukung penguatan dolar.

Pada titik tertentu, penguatan atau pelemahan mata uang akan memengaruhi kinerja ekspor dan impor. Jika pergerakannya terlalu kuat, produk ekspor suatu negara akan tidak kompetitif. Pada saat yang sama, perdagangan barang impor akan lebih rendah dibanding produk lokal. Begitu pula sebaliknya.

Pelemahan dolar memang dipandang positif di AS, namun penguatan euro memberi dampak sebaliknya. Penguatan euro dapat mengganggu kinerja eksportir Eropa karena produk mereka menjadi tidak kompetitif. Bahkan pada pekan lalu indeks DAX yang berorientasi pada ekspor Jerman mengalami penurunan tertinggi hingga 0,9% dan hampir sebagian besar zona euro berakhir negatif.

Beberapa agenda penting akan tejadi pekan ini di AS, seperti rapat perdana 2018 dalam bank sentral AS atau The Federal Reserve, laporan sektor nonfarm payroll, pidato State of The Union pertama Presiden Trump, akan menjadi faktor yang berpotensi berpengaruh pada kinerja dolar AS.

Dari Eropa juga mulai adanya dorongan untuk mengakhiri kebijakan quantitative easing (QE). Salah satu dorongan datang dari Klass Knot, anggota Dewan Pengurus ECB dan pemimpin Bank Sentral Belanda. Dan ada banyak bukti untuk mengakhirnya kebijakan ini pada bulan September.

Melihat arah kebijakan ECB dan kondisi euro saat ini, Knot menyarankan kajian khusus antaranggota mengenai kemungkinan percepatan pengakhiran kebijakan QE dan dampaknya untuk meredam penguatan euro terhadap dolar AS.

Nilai tukar euro melonjak 6 persen sejak pertengahan Desember yang mengancam kondisi perekonomian dari sisi ekspor dan menurunkan harga.

Beberapa langkah diplomasi juga dilakukan oleh ECB seperti, Presiden ECB Draghi, anggota Dewan Eksekutif Benoit Coeure dan Gubernur Bank of France Francois Villeroy de Galhau yang menginggatkan pejabat AS untuk tidak menargetkan nilai tukar pada level tertentu untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.

Harapan yang tak jauh berbeda juga diungkap Daniele Antonucci dari Morgan Stanley. Ia mengharapkan perubahan panduan kebijakan pada awal 2018 ini, sehingga fokus pembelian aset melonggar.

“Kami mengharapkan perubahan dalam panduan ke depan pada bulan Maret dan Juni, untuk mempersiapkan pasar menjelang akhir QE pada bulan Oktober. Kami melihat kenaikan suku bunga acuan pertama sebesar 15 basis poin menjadi -0,25 persen pada Maret 2019, dengan sinyal dari bank sentral menjelang akhir tahun ini,” terangnya.