Harga emas naik lebih tinggi pada sesi perdagangan Jumat (22/6), setelah enam bulan sebelumnya sempat di level terendah, karena penarikan dolar Amerika Serikat (AS) dari puncak aksi ambil untung 11 bulan terakhir.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (23/6), spot emas naik 0,2 persen menjadi US$ 1.269,46 per ounce. Di sesi sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 1.260,84, terendah sejak 19 Desember 2017. Bagaimanapun, logam kuning itu menuju penurunan 0,7 persen selama seminggu terakhir.

Emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus adalah 0,1 persen lebih tinggi pada US$ 1.271,50 per ounce.

Emas telah sedikit mengalami rebound karena pelemahan dolar, kata Kepala Dealer Lee Cheong Gold Dealers Hong Kong, Ronald Leung.

Pelemahan tersebut membuat emas dalam denominasi dolar lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Dolar mengalami penurunan dari level tertinggi 11 bulannya terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Jumat, karena adanya aksi ambil untung oleh investor. Padahal sebelumnya dolar mengalami rally dibarengi dengan rebound-nya poundsterling dari level terendahnya tujuh bulan terakhir setelah pernyataan sedikit hawkish dari Bank of England yang mengejutkan pasar.

Saham Asia jatuh ke posisi terendah dalam enam bulan terakhir pada Jumat, diakibatkan oleh adanya tanda-tanda perang dagang AS dengan Cina yang membuat laba perusahaan-perusahaan di sejumlah negara lain mulai terkikis. Ditambah lagi harga minyak yang terus berfluktuasi sebelum dilangsungkannya pertemuan OPEC yang diperkirakan keputusannya akan meningkatkan produksi.

Perang dagang memengaruhi emas untuk sementara waktu. Kecuali kalau dolar melemah, jangan berharap emas bergerak terlalu tinggi, Leung menambahkan.

Spot emas masih menargetkan US$ 1.258 per ounce, seperti yang disarankan oleh pola gelombang dan analisis proyeksi, kata analis teknikal Reuters, Wang Tao.

Kepemilikan SPDR Gold Trust, dana terbesar di dunia yang diperdagangkan di bursa emas, turun 0,5 persen menjadi 824,63 ton pada hari Kamis.

Sementara itu, perang dagang yang sedang berlangsung antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia kini mengklaim korban lainnya yakni sektor otomotif Jerman.

Platinum dan paladium sedikit berubah pada US$ 861,80 dan US$ 952 per ounce, tetapi menuju untuk penurunan mingguan lebih dari 3 persen.

Sebelumnya di sesi itu, palladium tergelincir ke tujuh minggu rendah US$ 947,15 per ounce.

Perak naik 0,5 persen pada US$ 16,39 per ounce dan di jalur untuk penurunan 0,6 persen minggu ini. Perak jatuh ke level terendah sejak 2 Mei di US$ 16,16 di sesi sebelumnya.