Total pembiayaan untuk sektor properti di Indonesia pada Mei 2018 tumbuh 11,4 persen dibandingkan Mei 2017 dengan nilai menembus Rp 840,3 triliun. Sebagian besar pembiayaan properti ini ditopang kredit properti bank domestik.

Hal tersebut diungkapkan Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, di Jakarta. Menurut dia, kredit properti dalam negeri hingga Mei 2018 mencapai Rp 741,7 triliun. Kemudian pembiayaan properti bersumber dari Utang Luar Negeri (ULN) sebesar Rp 80,6 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 18 triliun.

“Pertumbuhan sumber pembiayaan di sektor properti menunjukkan tren yang meningkat selama setahun terakhir. Terutama ditopang pertumbuhan kredit properti yang berasal dari dalam negeri,” ujarnya.

Fili mengklaim relaksasi dari rasio nilai kredit terhadap total agunan (loan to value/LTV) yang dilakukan BI pada Agustus 2016 juga telah memberi efek jangka menengah dan menopang pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga saat ini. Hal itu juga yang membuat BI melonggarkan kembali rasio LTV hingga penghapusan total LTV untuk rumah pertama semua tipe pada 1 Agustus 2018.

Adapun pada Mei 2018, pertumbuhan KPR mencapai 12,75 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir karena pada Mei 2016 KPR hanya tumbuh moderat di 6,21 persen (yoy).

KPR juga melampaui pertumbuhan kredit rata-rata perbankan yang di Mei 2018 tumbuh sebesar 10,26 persen (yoy). Pertumbuhan KPR tertinggi disalurkan untuk pembiayaan hunian flat/apartemen tipe 22-70 meter persegi dan lebih dari 70 meter persegi, serta rumah tapak tipe 22-70 meter persegi dan lebih dari 70 meter persegi.

“Kemampuan bayar dari debitur juga masih sangat baik, sehingga KPR masih bisa terus terangkat di pertengahan tahun ini,” ujar dia.

CTA Banner

BI memproyeksikan pertumbuhan KPR dapat tumbuh hingga 13,46 persen (yoy) di akhir 2018. Hal ini karena stimulus dari pembebasan LTV untuk rumah pertama semua tipe yang diterapkan per 1 Agustus 2018 mendatang.

Kredit Tumbuh Dua Digit

BI juga masih optimistis pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih akan berada di level dua digit dan melebihi pertumbuhan di Mei 2018 yang sebesar 10,2 persen secara tahunan (yoy). Fili mengatakan, pertumbuhan kredit Juni 2018 masih menggeliat dan tumbuh lebih baik dibandingkan bulan Mei 2018 yang disokong tren permintaan tinggi pada Ramadan dan Lebaran.

“Juni pertumbuhan masih meningkat dibanding Mei 2018,” kata Fili, meski belum mau mengungkapkan secara rinci pertumbuhan kredit perbankan di pertengahan tahun ini.

Menurut Fili, perbankan masih mengakselerasi pembiayaan di pertengahan tahun ini. BI belum mencatat adanya transmisi kebijakan suku bunga acuan yang telah meningkatkan suku bunga kredit. Namun, untuk tren kenaikan suku bunga simpanan memang lebih cepat terlihat.

“Kalau menurut siklusnya saat penyaluran kredit masih akselerasi. Jika memang nanti ada kenaikan suku bunga kredit, saya yakin kenaikannya akan terukur,” ujar dia.

Bank Sentral mengimbau perbankan untuk tidak buru-buru menaikkan suku bunga kredit meskipun suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sudah dinaikkan hingga 100 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. “Bank juga ambil marginnya jangan terlalu banyak. Lebih baik perbanyak di volume, jadi margin bisa tetap baik karena volumenya bertambah,” jelasnya.

Fili meyakini jika perbankan juga akan memperhatikan potensi turunnya permintaan kredit jika tergesa-gesa menaikkan suku bunga pinjaman. BI masih memasang target pertumbuhan kredit di 10-12 persen (yoy) pada tahun ini. Di Mei 2018, pertumbuhan kredit sebesar 10,26 persen (yoy) dengan rasio kredit bermasalah kotor (non performing loan/NPL) Mei 2018 sebesar 2,79 persen.