Bursa saham Asia mencapai level tertinggi dalam sejarah, Senin (15/1) setelah Wallstreet memperpanjang rekornya. Sementara dolar lebih memilih bertahan seiring dengan investor masih mempertimbangkan risiko pengetatan kebijakan di sejumlah negara.
Dikutip dari lama Reuters, aktivitas bisnis di Amerika sedikit tertekan karena liburan di Amerika menahan perdagangan Treasuries, meskipun futures E-Mini untuk indeks S&P 500 masih mencatatkan kenaikan awal sebesar 0,2%.
Indeks MSCI terluas dari saham Asia-Pasifik, di luar Jepang, naik 0,6% menembus posisi all-time sebelumnya 591,50 pada akhir 2007. Indeks utama Australia menguat 0,2%, indeks Nikkei Jepang juga mengalami kenaikan 0,3%.
Investor optimistis bahwa data produk domestik bruto China yang jatuh tempo akan menunjukkan pertumbuhan setidaknya 6,7% untuk ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Pembukaan Perdagangan, Pasar Saham Asia Catat Level Tertinggi Sepanjang Sejarah
Wall Street pun semakin menguat lantaran musim laporan pendapatan kuartal keempat dimulai dengan hasil yang solid dari bank dan penjualan ritel yang kuat. Hal itu yang kemudian mendorong optimisme investor terkait pertumbuhan ekonomi.
Indeks Dow Jones mencatat kenaikan 2% pekan lalu, sementara Nasdaq naik 1,8% dan indeks S&P 500 naik 1,6%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak delapan rekor penutupan tertinggi dari sembilan hari perdagangan pertama 2018, sementara Dow membukukan penutupan tertinggi keenam tahun ini.
Laba untuk perusahaan S & P 500 diprediksi naik  rata-rata sebesar 12,1% di kuartal ini, dengan keuntungan perusahaan jasa keuangan cenderung meningkat 13,2%.
“Perdagangan konsensus dalam dollar AS sampai 2018 dan keuangan Eropa dan AS yang panjang terus berlanjut. Hal ini tetap menjadi fokus utama pada minggu depan,” kata Chris Weston, kepala strategi pasar di broker IG seperti yang dikutip dari lama Reuters.
Dia juga menambahkan, penurunan indeks USD sebenarnya merupakan aksi jual terbesar sejak 27 Juni dengan harga penutupan terendah sejak 8 September. “Hal ini menunjukan seberapa besar arus keluar USD sekarang,” tmbahnya.
Indeks USD tidak menunjukan tanda-tanda penguatan sejak Senin (15/1), melainkan turun ke level 90.839. Sementara Euro telah mencapai puncak dalam tiga tahun di level US$ 1.2203 dan bertahan dengan kenaikan 1,3%  pada Jum’at (12/1) lalu.
Menguatnya mata uang tunggal (single currency), antara lain terdorong dari adanya spekulasi dari Bank Sentral Eropa yang tengah melakukan kampanye stimulus moneter serta kabar dari Kanselir Jerman, Angela Merkel serta Sosial Demokrat yang tengah bergerak  menuju perundingan koalisi formal.